Revolusi Ala Corona

Revolusi Ala Corona
Mari Berbagi


HMSTimes.com, JAKARTA — Luar biasa dampak pandemi Covid-19 terhadap sendi-sendi kehidupan manusia. Dalam berbagai hal, terus terang kita takluk dan bertekuk lutut di hadapannya. Bayangkan, hanya coronalah yang sanggup membatalkan acara-acara keagamaan. Coronalah yang mampu mengubah ritual keagamaan. Saya tidak bisa membayangkan kalau hal itu dilakukan oleh pihak selain corona, manusia misalnya. Bisa-bisa dia atau mereka dianggap menista agama.

Abang saya, Saurlin Siagian, mengatakan Corona menghadirkan gereja tahun 2030 lebih awal sepuluh tahun. Betul! Lihat saja, ketika gereja masih mempersoalkan penggunaan softcopy Alkitab melalui telepon genggam, corona melompatinya jauh hingga ke kebaktian online. Secara serentak gereja mengamininya. Maka bermunculanlah cara berkebaktian, antara lain, melaui YouTube, live streaming, dan Zoom. Sekali lagi, itu terjadi akibat ulah corona. Corona memunculkan revolusi bergereja dan beragama.

Revolusi juga terjadi di bidang lainnya. Tiba-tiba saja hampir semua penduduk Indonesia melek teknologi informasi. Rapat arisan ibu-ibu dilangsungkan via Zoom. Serikat marga kami berdiskusi, juga via Zoom, untuk membicarakan peran serikat untuk membantu anggota yang terkena dampak covid-19.

Sekolah, kuliah, ujian, termasuk ujian skripsi, dilakukan melalui dunia maya. Hidup seolah-oleh begitu mudah dan efisien. Akan tetapi, kembali, hanya coronalah yang bisa menghadirkan itu lebih cepat. Akankah sekolah atau kampus online akan terwujud lebih dini? Marilah kita tunggu kehadirannya.

Tak hanya itu, corona juga mengintervensi tatanan dan relasi sosial kita. Dengan rela, kita menerima tak perlu salaman, misalnya. Padahal, selama ini salaman dengan cium tangan amat kita anjurkan. Acara adat dan budaya yang selama ini yang tak ubahnya acara agama, tunduk kepada aturan corona. Kalau tidak, sila menjadwal ulang acaranya atau membatalkannya.

Mari kita beranjak kembali ke soal berkebaktian itu. Ada dua kemungkinan yang terjadi pasca Covid-19. Akankah mereka kembali ke gereja atau melanjutkan cara baru yang ‘mudah’ dan ‘nyaman’ itu? Ini adalah persoalan yang perlu diantisipasi oleh gereja. Bisa-bisa, jemaat akan memilih khotbah dan pendeta yang disukainya, lalu sambil minum kopi mereka berkebaktian di rumah, di cafe, atau saat mereka tamasya di Simarjarungjung. Redefenisi gereja tampaknya tak terelakkan lagi.

Corona juga membuat sebagian besar jemaat siuman dari mimpi sesatnya. Teologi kemakmuran dan obral mujizat tiba-tiba saja digugat. Pasalnya, para hamba Tuhan yang selama ini getol mengumbar mujizat, tiba-tiba tiarap dan jampi-jampinya hambar. Tak satu pun yang datang ke rumah sakit menghadang corona dan berkata: “Wahai corona, enyahlah kau!”

Akhir kata, akibat corona bermunculanlah tagar “Tinggallah di rumah! Biarkan kami bekerja untukmu, untuk kalian!” Dan, di situ tak dipersoalkan apa agama, ras, dan warna kulitmu. Tampaknya, corona makin menyadarkan manusia akan humanisme itu!

Penulis: Albiner Siagian (Sahalak parhalado di HKBP Perumnas Simalingkar; Guru Etos dohot Revolusi Mental na marbisoloit)

BACA JUGA:  Gaji di Bawah UMK, Lembur Tak Dibayar, Begini Curhatan Mantan Karyawan Hotel Green Rose, Batam

Berita Terkait:


Mari Berbagi
Redaksi HMS Times

Redaksi HMS Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com