“Sepakat” Tunggu Dana Cair, Gaji Dahulukan BLT

“Sepakat” Tunggu Dana Cair, Gaji Dahulukan BLT
Mari Berbagi


HMSTimes.com, NATUNA –  Perjalanan santai menaiki sepeda motor dengan mengedepankan anjuran Pemerintah, keluar rumah harus menggunakan masker. Seiring semangat bulan suci ramadhan di bulan penuh berkah,   bertepatan hari libur (21/5/2020), masuk desa keluar desa menghabiskan waktu menunggu waktunya berbuka puasa.

Foto : Saat Pertemuan Perangkat Desa Sungai Ulu bersama Warganya

Saat melintasi jalan kantor desa Sungai Ulu hendak menuju ke desa harapan jaya, palingan mata tertuju serius ke kantor desa Sungai Ulu tersebut, menguap tinggi rasa penasaran awak media ini dari kondisi hari libur, namun kantor desa Sungai Ulu banyak sepeda motor yang parkir dan penuh tanya berkecambuk di benak. Apa gerangan kegiatan yang berlangsung?

Untuk meredam rasa penasaran itu, mengedepankan tupoksi tugas dan fungsi Jurnalistik, yakni corong informasi, edukasi dan kontrol sosial, bercermin dari keadaan banyaknya sepeda motor yang memadati halaman teras kantor desa Sungai Ulu itu di hari libur, awak media ini memarkirkan motor dan ikut nimbrung, mengamati dan mencermati fakta sesungguhnya.

Rasa penasaran terkuak sudah, ternyata pembahasan yang berlangsung pada saat hari libur itu yaitu, fokus membicarakan tentang Bantuan Langsung Tunai dengan beberapa warga yang merupakan warga desa Sungai Ulu.

Sehubungan awak media ini tidak mendengarkan dari awal “Selang waktu tidak terlalu lama pertemuan selesai, awak media ini meninggalkan kantor desa Sungai Ulu berlalu pergi, dan rencana akan melakukan wawancara esok harinya, (hari ini – red).

Saat ditemui kembali guna melakukan konfirmasi, terkait pembicaraan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Dana Desa, kepala desa Sungai Ulu Hermanto, (22/5/2020), menceritakan kronologisnya yaitu, membicarakan bahwa sebelum tanggal 1 Mei 2020, penetapan itu, dibentuklah SK relawan Covid 19. Diantaranya Kepala Desa, Ketua BPD, Perangkat desa, RT/RW dan Kadus.

Selanjutnya dilakukan survey untuk menetapkan siapa – siapa warga yang mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) dari Dana Desa. Setelah mereka survey di lapangan, dapatlah data awalnya 330 KK, dan hingga musyawarah 3 kali  dilaksanakan dalam hal itu. “Katanya.

BACA JUGA:  Pemkab Kayong Utara Laksanakan Apel Bendera, Memperingati Hari Lahir Pancasila

Hermanto juga mengatakan, pertama mereka membawa data 330 KK, kemudian ada perubahan menjadi 264 KK, dan untuk 264 KK itu di bawa lagi kerapat terakhir yang dihadiri oleh pendamping dari Kemendes. Harusnya desa Sungai Ulu ini 148 KK. Dasarnya dana desa Rp 800.000.000 (Delapan Ratus Juta) itu 30% dari anggaran dana desa. “Jadi harus dapat 184 KK, sementara laporan dari tim survey itu melebihi angka (kuota)”.

Masih kata Hermanto, Terkait kelebihan kuota itu, dilakukan survey ulang dan akhirnya data terakhir menjadi 163 KK yang berhak menerima BLT.  Dengan data itu pada tanggal 1 Mei kami lakukan penetapan di kantor desa yang dihadiri tingkat kecamatan, Pendamping desa, BPD dan kepala desa, hadir semua (ada berita acara). “Ungkapnya.

Karena dana desa yang telah dikirim 60% itu sudah kita kerjakan, ini sesuai intruksi melalui surat kalau tidak salah tgl 14, agar kegiatan fisik di percepat progressnya. “Itu sudah berjalan, kita laksanakan dulu.” Katanya.

“Sudah kita tetapkan, ada lagi surat baru dan harus, tentang BLT ini”. Jadi kami memakai dana tahap ke 2 yang 40% itu”, tambahnya.

Dikatakan Hermanto lebih lanjut, Jadi pembicaraan di kantor desa (21/5/2020), yaitu berhubungan dengan KK di desa Sungai Ulu ramai, berjumlah 577KK, jadi maksud dan tujuan usulan beberapa warga saya, selain PNS dan Honorer, harus dapat semua dan bagi rata. Diberikan pemahaman, terkait hal itu kita bilang tidak bisa. “Harapan kita itu kiranya dapat dipahami.warga saya”.

“Ini sudah ada aturannya, Kalau sudah 600 ya tetap 600, tidak bisa kita bagikan rata. Jadi untuk warga saya yang aktifitasnya nelayan, perlu diketahui tgl 21 April 2020, camat Bunguran Timur mengirim surat kepada saya untuk meminta data nelayan, terkait dampak dari wabah virus covid 19”. Ujarnya.

BACA JUGA:  Alih-alih Selesaikan Soal UU, RUU Omnibus Law Justru Timbulkan Polemik

Lanjutnya, dengan itu, warga saya yang aktifitasnya nelayan, kami tidak masukan lagi ke BLT dari dana desa. Karena kami sudah mengirim datanya ke Kecamatan, karena dari dinas perikanan minta data nelayan disampaikan ke Kecamatan dan pihak kecamatan meneruskan data itu ke dinas Perikanan. “Jadi jika sudah mendapat bantuan terakit dampak covid 19 dari dinas atau  pemerintah, atau bantuan lain, tidak berhak lagi mendapat di dana desa.”Ungkapnya.

Masih kata Hermanto, Kami atas nama desa juga selama ini selalu membantu nelayan, tapi tidak berbentuk uang tapi berbentuk bantuan peralatan, sudah kami lakukan. “Tahun ini memang anggarannya terpakai untuk membiayai Covid 19 ini. Seluruh kegiatan kita pangkas untuk memenuhi kloter 30% itu.

Saat dipertanyakan terkait pertanyaan salah seorang warganya terkait kenapa desa Sungai ulu kekurangan uang?  Ya itu, karena uangnya cuma Rp 800.000.000 (Delapan Ratus Juta). Dikalikan 30% dana covid tu hanya Rp 269.000.000. karena desa ada kelebihan duit, jadi kami tambah lagi untuk anggaran covid itu dari 148 KK menjadi 163 KK. Jadi harapannya warga saya dalam pertemuan kemarin, yang mungkin dengan asumsi karena dampak covid 19 itu semuanya kena, mengusulkan minta dibagikan rata. “Kita bilang tidak bisa, tentunya agar dipahami bersama”.

Warga Desa Sungai Ulu yang pernah merasakan bantuan terdiri dari bansos PKH 26 KK  Raskin 31KK, Perluasan Sembako dari dinas 76 KK. “Tidak ada lagi warga saya yang tidak tersentuh bantuan, “terkecuali TNI, Polri, PNS, Pegawai PTT dan perangkat desa. “Selama bulan puasa ini pihak desa Sungai Ulu dengan BPD terus berkordinasi atas semua penyaluran bantuan yang telah kami laksanakan”.

Penyaluran bantuan kepada warga, kita transparan, setelah penyaluran itu telah terlaksana, data – data pemberitahuan baru kita tempelkan di papan informasi. “Kita tidak berani mengumumkan nama – nama penerima, apabila bantuan yang akan di salurkan belum ada dananya, jadi bumerang bagi kita yang nantinya akan dipertanyakan terus oleh warga. “Jelasnya.

BACA JUGA:  Sunimiardi Berharap Mediasi Ketiga dengan PT. Tirta Madu Sesuai Aspirasi Pekerja

Dalam hal ini juga, kami tidak mandai – mandai, sudah disampaikan terlebih dahulu berupa laporan ke dinas dan pendamping desa dari Kemendes bernama Bagas, terkait aparat desa dan perangkat BPD yang telah musyarawah dan mufakat. Berupa kepedulian terhadap warga dalam rangka menyambut lebaran, kita sudah sepakat bersama –  sama yaitu uang gaji seluruhnya untuk bulan 5, 6 dan 7 yang berjumlah Rp 126.000.000 (Seratus dua puluh enam juta) akan dipakai dulu untuk membantu BLT, menunggu dana 40 % cair. Setelah dana itu cair, duit gaji kami baru diganti, “ada surat pernyataannya”. Tutup Hermanto.

(Bung Lubis)


Mari Berbagi
Redaksi HMS Times

Redaksi HMS Times

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com