Sabtu, 29 November 2025
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Lukisan berjudul Rokayah, buatan Hernur, di pameran lukisan Komunitas Batam Coret-coret, T’Kong Kafe Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 6 Maret 2021 malam. (Foto: Donella Bangun)

Belajar dari Semut dan Kisah Tragis Rokayah

8 Maret 2021

Batam, 578 kata

Donella Bangun Donella Bangun
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Di kandang ayam yang terbuat dari anyaman bambu itu Rokayah duduk, dengan kedua kakinya terpasung di lantai tanah tanpa alas. Tangan kirinya menggenggam rambut hitam panjangnya yang terurai. Ia hanya mengenakan kemben warna hijau. Di wajah Rokayah terlukis sebuah kisah miris yang menyimpan duka.

“Perempuan dalam lukisan itu adalah TKI yang pulang ke Indonesia setelah dihamili sang majikan di Arab Saudi, lalu mengalami depresi setelah melahirkan,” kata Hernur (49), Ketua Komunitas Batam Coret-coret, kepada HMS di pameran lukisan yang diadakan di T’Kong Kafe Batu Aji, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 6 Maret 2021 malam.

Lukisan yang dibuat Hernur pada tahun 2002 itu, selain menjadi saksi perjalanannya sebagai pelukis, juga merupakan ide terbesar baginya secara humanis. Selain karena dirinya menyaksikan sendiri kejadian itu di Ponorogo, sampai saat ini, TKW dan TKI memang masih banyak mengalami kekerasan, pemerkosaan, sampai ada yang pulang hanya tinggal jasad. Coba saja mengetik kata ‘Penyiksaan TKI’ di mesin pencarian Google, maka akan muncul puluhan artikel tentang kisah tragis yang menimpa pahlawan devisa negara itu.

Selain lukisan berjudul Rokayah, lukisan milik Wahdjoe (40) juga tidak kalah menarik. Dari 3 lukisan yang dia pamerkan di acara itu, ada 2 lukisan yang menggunakan semut sebagai objeknya. Bukan tanpa alasan. Wahdjoe mengaku pernah didatangi seseorang yang memintanya melukis semut di dalam mimpinya. “Dari filosofinya semut itu sangat bagus. Bergotong-royong, kalau bertemu saling menyapa, memberi informasi lewat antenanya. Kalau kita manusia mengikuti filosofi semut ya, saling berbagi kalau sudah mampu,” kata Wahdjoe.

Berita Lain

Waterfront Pangururan: Pesona yang Menawan, Tantangan yang Menguji

Kisah Bocah 3 Tahun yang Selamat dari Pusaran Puting Beliung di Pulau Kasu Batam

Kecam Tindakan Rasmus Paludan, RMAB Ajak Remaja Muslim Batam Boikot Produk Swedia

Mariun Manik Mengembara Demi Cinta

Lukisan tangan berwarna hitam menggenggam uang yang dikerumuni semut, berjudul Dialog Semu (t) dibuat menggunakan warna panas dan dingin yang juga memiliki filosofi. Warna panas pada uang menurut Wahdjoe melambangkan kebahagiaan semu. Sedangkan warna dingin melambangkan fatamorgana. Tangan hitam melambangkan tangan kotor, yang menghasilkan uang dengan cara tidak baik.

“Biasanya ada gula ada semut, ini ada duit ada semut. Orang-orang kan biasanya kalau sudah ada duit pasti berkumpul,” kata dia.

Satu lukisan lagi yang menggunakan semut berjudul Tanda Tanya, menggambarkan situasi dunia saat ini dari sudut pandang pelukis satu ini. Di lukisan itu terdapat seekor semut yang mengangkat bumi bermasker dengan bayangan segitiga dan virus. Segitiga dalam lukisan itu melambangkan konspirasi. Dibuat menggunakan warna terjelek di dunia, yaitu Pantone 448 C. Mengandung unsur kesengsaraan dan kematian, yang diakibatkan oleh virus Corona. “Lukisan ini menggambarkan tanda tanya. Betulkah konspirasi, atau memang pandemik.” kata dia.

Pelukis lain yang juga mengangkat tema pandemi dalam lukisannya adalah Heryantossr (53). Ia mungkin merupakan pelukis dengan karya terbanyak di pameran kali ini, yakni sebanyak 27 lukisan. Heryantossr banyak menjelaskan tentang lukisan yang lebih menonjolkan teknik, dan yang lebih menonjolkan konsep. Menurutnya kedua aspek itu sangat penting ketika seorang pelukis ingin membuat lukisan yang bagus. “Teknik dan konsep harus bagus. Misalnya naga berantem sama macan. Bagus temanya, tapi kalau tekniknya kurang bagus kan naganya bisa jadi cacing,” kata dia.

Lukisan milik Heryantossr yang dipamerkan di tempat itu diantaranya, lukisan mayat Covid-19, Indonesia terserah, lukisan tangan menggunakan hand sanitizer di atas potongan kardus, tangan berkutek merah yang tumpahannya berbentuk peta Indonesia yang melambangkan Indonesia zona merah, baju bersablon virus Covid-19 yang diseterika, dan masih banyak lagi.

Masyarakat yang hadir dan menyaksikan langsung berbagai lukisan yang menyiratkan pesan gotong royong, konspirasi, pandemi, sampai kejadian tragis itu terbilang ramai. Mulai dari anak-anak, orang tua, mahasiswa, sampai pejabat. Mereka terlihat berdiam diri beberapa saat memandangi lukisan-lukisan tersebut, mungkin sedang mencoba memahami cerita dan pesan di baliknya.

Total ada sekitar 50-an lukisan, dengan harga ratusan sampai puluhan juta rupiah, yang dipamerkan di acara bertajuk Bebas Ada Batas itu. Hasil perjualannya nantinya akan didonasikan oleh komunitas ini untuk pembangunan mesjid dan pesantren.

Berita Lain

Pelaut Batak Batam dengan Impian Besa

Pelaut Batak Batam dengan Impian Besar

23 Agustus 2025
Rokok HD terpampang di etalase penjual saat redaksi sedang berkunjung diwarung pinggir jalan. (Foto./HMS).

Rokok Ilegal Mudah Ditemukan di Warung, Asapnya Menyesakkan Pengunjung

23 Agustus 2025

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS