Benhauser Manik bolak-balik mengalihkan tatapannya ke arah mereka yang sedang berdiskusi di sebuah rumah makan di Kota Batam, Kepulauan Riau, Kamis kemarin. Di hadapannya, para pengurus baru Federasi Serikat Buruh Patriot Pancasila (FSBPP) cabang Batam, sedang berbagi pengalaman dan masalah untuk membenahi organisasi. Lima orang itu terlihat serius memikirkan bagaimana sebuah serikat bisa efektif memperjuangkan hak-hak pekerja.
“Ini langkah kecil sekaligus langkah besar,” kata Santo, Penasehat FSBPP Batam yang baru kepada Vera Ketua DPC FSBPP Batam. “Jangan sampai meraup keuntungan dari sebuah permasalahan. Tidak boleh ada anggota yang menggunting dalam lipatan, bikin hancur perjuangan itu. Bikin aksi tapi kandas setelah dapat ‘suap’. Kita harus bisa membantu mencari jalan keluar,” katanya.
Selain Benhauser Manik yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal, hadir juga Mangatur Nainggolan, Ketua Umum FSBPP. Keduanya baru tiba dari Jakarta, khusus untuk menghadiri pertemuan kecil itu dan mengurus semua persiapan markas FSBPP di Batam, yang disepakati beralamat di Tembesi Point Blok B Nomor 2, Kelurahan Kibing, Kecamatan Batu Aji. “Sementara lebih bagus di sana, karena dekat dengan daerah industri. Nanti kita buka cabang yang lain,” kata Benhauser Manik.
Ada aneka ragam topik yang mereka diskusikan, dari masalah umum pekerja di Batam: Upah Minimum Kota (UMK), cara mengadvokasi permasalahan industri, masalah pemutusan hubungan kerja, hingga pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan para buruh. Dalam pertemuan itu, Benhauser dan Mangatur mengatakan bahwa FSBPP harus menjadi organisasi buruh yang independen, mandiri, demokratis, dan berdaulat.
FSBPP sendiri sudah berdiri sejak 17 Agustus 2017, keanggotaannya adalah buruh formal maupun informal termasuk buruh lintas sektoral. Kantor pusatnya berada di Jakarta Barat. “Nanti semua permasalahan yang kita dapat di daerah akan kita giring ke pusat, supaya pembenahan itu cepat,” katanya.
Organisasi ini memiliki lambang berupa teks bertuliskan FSBPP dalam 4 kotak yang mencerminkan empat pilar Kebangsaan. Pada huruf SBP-nya diberi warna putih di dalam kotak biru mencerminkan kebebasan, dan pada huruf di dalam kotak berwarna merah mencerminkan semangat dan keberanian dalam mengambil sikap. Di lambang itu ada juga siluet Garuda berwarna merah mencerminkan semangat buruh untuk mencapai kesejahteraan yang berkeadilan berdasarkan Pancasila.
Sesuai namanya, mereka mendorong terwujudnya hubungan “Industrial Pancasila”, yang artinya menempatkan buruh sebagai manusia pribadi dengan segala harkat dan martabatnya, serta menjalin hubungan antara buruh dan pengusaha sebagai mitra yang meningkatkan harkat dan martabat manusia, sehingga menghasilkan kehidupan yang berperikemanusiaan yang adil dan beradab bagi kaum buruh dan keluarganya.
Kota Batam sendiri adalah bidikan baru bagi FSBPP untuk mengembangkan sayap atau penguatan internal organisasi ini. Menurut Santo, fokus utama FSBPP Batam sekarang bukan mencari anggota yang banyak, sasaran mereka adalah mencari orang-orang yang memiliki intregritas. “Karena memperjuangkan hak buruh tidak selalu harus berdemonstrasi turun ke jalan,” katanya.
FSBPP sendiri memiliki beragam program, salah satunya yaitu meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia melalui program-program yang sudah mereka rancang melalui bidang penelitian dan pengembangan organisasi, yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat dengan tujuan membantu pemerintah dalam menurukan angka kemiskinan.
Selain itu, mereka juga akan mendirikan sebuah koperasi ataupun usaha bersama yang bermafaat bagi kesejahteraan anggotanya dan dapat juga sebagai sarana pemecahan masalah ekonomi seperti modal, bahan baku, dan pemasaran. Mereka bertujuan untuk mengakomodir berbagai kegiatan-kegiatan usaha seperti pertanian, kemaritiman, peternakan, perdagangan, dan usaha pariwisata.



