Jumat, 1 Mei 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Wakil Presdien Amerika Serikat, Kamala Harris tiba di Singapura, Minggu, 22 Agustus 2021.

Mengapa Kemala Harris Tak Mampir ke Indonesia?

24 Agustus 2021

Nasional, 471 kata

H. Achmad Ristanto H. Achmad Ristanto
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Oleh : A. Ristanto

Cukup meragukan pandangan bahwa ketidakhadiran Wakil Presiden Kemala Harris ke Indonesia dalam lawatan ke Asia Tenggara pada 22-26 Agustus 2021, karena Amerika Serikat menganggap kita sudah menjadi mitra strategis China. Bahkan mengembangjan tudingan Indonesia akan menjadi koloni China pun sulit diterima.

Kita baru saja melihat sukses latihan perang bersama antara TNI Angkatan Darat (AD) dan milter Amerika Serikat (AS). Latihan bertajuk Garuda Shield – XV berlangsung sepanjang 1-14 Agustus 2021, bahkan digelar bukan hanya di satu tempat tetapi di Baturaja, Sumatra Selatan; Amborawang, Kalimantan Timur; dan Makalisung, Sulawesi Utara.

Total ada 2.161 prajurit TNI AD dan 1.547 tentara Amerika Serikat yang ikut. Sehingga latihan perang bersama ini disebut sebagai yang terbesar sepanjang sejarah kerja sama militer RI dan AS selama ini.

Berita Lain

Kemenimipas Bina 365 ASN Pelanggar Disiplin di Nusakambangan

BBM Nonsubsidi Naik Signifikan, Pertamina Pertahankan Harga Pertalite Rp10.000/Liter

Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 190 kg Emas di Bandara Halim Perdanakusuma

Sebanyak 15 Korban Tewas Kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur Teridentifikasi

Fakta inilah yang menepikan pandangan bahwa AS di bawah Presiden Joe Bidden tidak lebih pro Indonesia dibandingkan Singapura dan Vietnam.

Jika konteks kunjungan Wapres Kemala Harris dianggap lebih menekankan aspek ekonomi, tentu hal tersebut pun belum cukup kontekstual. Sebab Singapura walaupun dianggap negara pusat keuangan global, namun wilayah dan penduduknya minim.

Sementara Vietnam adalah negara yang pernah mempermalukan AS. Sebab dalam perang dengan Vietnam tahun 1957-1975 ternyata AS bisa dikalahkan.

Lalu apa makna kunjungan Wapres Kemala Harris ke Asia Tenggara?

Memang agenda formal kunjungan tampaknya lebih pada peningkatan hubungan ekonomi. Jika benar demikian, kita seharusnya mengikuti dengan cermat di lapangan agar bisa memperoleh bukti tujuan kunjungan sebenarnya.

Kedua negara tersebut kita tahu tidak memiliki sumber daya alam yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi. Demikian pula Vietnam bukan termasuk negara dengan kekuatan perekonomian yang besar.

Jika kita amati dikaitkan apa yang telah Amerika lakukan melalui latihan perang bersama, sepertinya Kemala Harris mendapat tugas mencari pangkalan militer untuk negara super power itu. Singapura dan Vietnam dengan posisi geografi yang dimiliki, ditengarai memadai untuk menjadi pangkalan alat utama sistem persenjataan Amerika. Untuk apa? Siapa lagi kalau bukan demi mempersiapkan kekuatan militernya, setelah melihat perkembangan pesat teknologi China dalam memproduksi alat perang.

Sebuah tragedi teraktual terjadi ketika kapal induk Amerika memasuki Laut China Selatan dengan dalih melakukan operasi rutin, tetapi ternyata nyasar. Sebab alat navigasi GPS yang mereka gunakan tidak berfungsi penuh, sebab kawasan tersebut sudah dikuasai dan dikendalikan sistem navigasi buatan China.

Menurut situs web Nihon Keizai Shimbun, Amerika Serikat telah lama menjadi pemimpin dalam sistem penentuan posisi satelit global. Tetapi sekarang sistem navigasi satelit Beidou dari China telah melampaui skala GPS AS.

Bagaimana dengan Indonesia? Bagi Amerika tampaknya sudah memiliki gambaran kekuatan dan posisi strategis kita, setelah terlibat latihan militer bersama. Untuk itu pemerintahan baru Amerika sepeninggal Donald Trump tidak seharusnya kita khawatirkan mengesampingkan kemitraan dengan Indonesia.

Bagi Amerika bangsa dan negara Indonesia selain berpenduduk Muslim terbesar di dunia, juga letak geografi di antara benua Asia dan Australia senantiasa akan diperhitungkan dalam segala aspek. Namun kita sebagai bangsa berdaulat pun jangan sampai berkiblat salah satu kekuatan negara lain Pemerintah seharusnya tetap mampu memainkan peranan menciptakan perdamaian dunia!.

Berita Lain

Laut di sekitar pesisir Bengkong tercemar akibat aktivitas reklamasi (Dok:Akar Bhumi Indonesia)

Hari Nelayan 2026, Ancaman Iklim dan Ekspansi Industri Menekan Nelayan Kecil

8 April 2026
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus (Dok: Istimewa)

YLBHI Desak Polisi Usut Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

14 Maret 2026

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS