SEOUL – Dalam menggesa perpanjangan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), para delegasi BP Batam turut melihat sekaligus mempelajari lebih dalam teknologi Wastewater Treatment Plant (WWTP) Underground (bawah tanah) bernama Clean Water Management Office (Water Quality Restoration Centre) di Seongnam City Hall, 283 Sampyeong-dong, Bundang-gu, Seongnamsi, Gyeonggi-do, Korea Selatan.
General Manager Pengelolaan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek IPAL mengatakan, setelah dilakukannya survei dan dipelajari bersama, IPAL domestik di Korea Selatan ini berkapasitas besar yakni 47.000 m3/hari, lebih besar dua kali lipat dari IPAL domestik Batam yang berkapasitas 20.000 m3/hari.
“Teknologinya sama yakni memanfaatkan bakteri pengurai. Namun, ada satu yang menarik adalah konsep building-nya,” ujar Iyus.
Dijelaskan, IPAL di Korea Selatan meminimalisir ruang, yang mana bangunan di bawah tanah (underground) adalah IPAL dan di atasnya adalah gedung kantor dan ruangan monitoring atau control panel, serta gedung lainnya.
“Ini bagus dan efisien, tapi membutuhkan biaya lebih besar. Serta kelemahannya adalah bau tinja yang menyengat karena udara terjebak dalam ruangan meskipun ada exhaust,” terangnya.
Menurut Iyus, bagi negara maju pengembangan IPAL sudah tak asing lagi. Masyarakat urban di negara maju juga telah beradaptasi dengan teknologi ini, dan tertib terhadap pengelompokkan limbah atau sampah.
“Kita bisa mencontoh mereka, tentu butuh dukungan dari semua lapisan baik pemerintah maupun masyarakat, agar apa yang telah diupayakan dapat membawa manfaat ke depan. Harus ada yang memulai, dan BP Batam sejak 1995 sudah membangun dan terus mengembangkannya,” ungkap Iyus.
Perwakilan dari Water Quality Restoration Center di Seongnam City Hall menyebutkan, WWTP ini dibangun sejak 1978 dengan mengusung tema bawah tanah. Sumber daya manusia (SDM) hanya 17 orang. IPAL ini beroperasi setiap hari dengan mengolah 47.000 ton limbah rumah tangga. Air baku hasil pengolahan kemudian dialirkan kembali ke sungai yang berada di tengah Kota Seoul.
“SDM kami sedikit tapi multitasking. Skill SDM benar-benar harus disiapkan dengan baik,” papar seorang perwakilan tersebut.
Ia juga menambahkan, bahwa semua negara harus segera memulai proyek seperti ini karena fasilitas tersebut sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat dan fasilitas lingkungan.
“Di negara atau kota manapun harus investasi ini, untuk jaga kesehatan masyarakat. Memang biaya besar, tapi manfaatnya juga sangat besar termasuk investasi jangka panjang,” pungkasnya.
Kunjungan kemudian dilanjutkan dengan melihat sungai buatan di tengah Kota Seoul bernama Kali Cheonggye atau Cheonggyecheon, tempat di mana hasil recycle water dialirkan dan berada di tengah Kota Seoul. (*)



