Kamis, 30 April 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Genus baru fosil kanguru raksasa ini ditemukan di pegunungan Papua Nugini tengah. (Foto: suara.com)

Fosil Raksasa Kanguru Purba Telah Ditemukan, Berusia 42 Ribu Tahun

30 Juni 2022
hms hms
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Para ahli paleontologi menemukan sebuah fosil raksasa dari nenek moyang kanguru Australia modern yang punah sekitar 42 ribu tahun lalu.

Genus baru fosil kanguru raksasa ini ditemukan di pegunungan Papua Nugini tengah.

Menurut para ahli, spesies terakhir dalam genus adalah sepupu kanguru abu-abu dan merah di Australia.

Namun alih-alih terkait erat dengan keturunan Australia modern, fosil kanguru tersebut milik genus kanguru yang lebih primitif dan hanya ditemukan di Papua Nugini.

Berita Lain

Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 190 kg Emas di Bandara Halim Perdanakusuma

Sebanyak 15 Korban Tewas Kecelakaan KA di Stasiun Bekasi Timur Teridentifikasi

Didit Wijayanto Wijaya Raih Gelar Doktor ke-34 Program Ilmu Hukum UTA’45 Jakarta

Rocky Gerung ke Istana Saksikan Pelantikan Jumhur Hidayat Menteri LH

Para ilmuwan telah menamai hewan itu Nombe nombe, diambil dari nama Nombe Rockshelter, sebuah situs arkeologi dan paleontologi di Provinsi Chimbu, Papua Nugini, tempat fosil itu ditemukan.

Semasa hidupnya, kanguru Nombe tinggal di hutan hujan pegunungan yang beragam dengan semak lebat dan kanopi tertutup, di mana hewan itu memakan daun dari pohon serta semak menggunakan tulang rahangnya yang tebal.

“Fauna Nugini sangat menarik, tetapi sangat sedikit orang Australia yang memiliki banyak informasi atau ilmu tentang apa yang sebenarnya ada di sana,” kata Isaac Kerr, kandidat PhD paleontologi dari Flinders University, dikutip dari Independent, Kamis, 30 Juni 2022.

Berdasarkan penelitian, para ilmuwan menduga banyak spesies telah berevolusi dari bentuk purba kanguru, yang terletak di Papua Nugini pada Zaman Miosen akhir, sekitar lima hingga delapan juta tahun lalu.

Pulau-pulau di Papua Nugini dan daratan Australia dihubungkan oleh “jembatan darat” pada masa itu karena permukaan laut yang lebih rendah, dibandingkan dengan saat ini yang dipisahkan oleh Selat Torres.

Jembatan darat tersebut memungkinkan mamalia asli Australia pindah ke hutan hujan di Papua Nugini.

Namun ketika Selat Torres muncul, populasi hewan ini menjadi terpisah dari kerabat di Australia dan berevolusi secara terpisah agar sesuai dengan lingkungan di Papua Nugini.

Saat ini, para ilmuwan akan melakukan tiga penggalian paleontologi di dua lokasi berbeda di Papua Nugini selama tiga tahun mendatang.

Bekerja sama dengan kurator Museum dan Galeri Seni Papua Nugini, para ahli berharap dapat membangun minat lokal dalam paleontologi Papua Nugini.

Sumber berita: suara.com

Berita Lain

Laut di sekitar pesisir Bengkong tercemar akibat aktivitas reklamasi (Dok:Akar Bhumi Indonesia)

Hari Nelayan 2026, Ancaman Iklim dan Ekspansi Industri Menekan Nelayan Kecil

8 April 2026
Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus (Dok: Istimewa)

YLBHI Desak Polisi Usut Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus

14 Maret 2026

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS