JAKARTA – Tiga dari 11 korban tewas yang terjebak saat erupsi Gunung Marapi, berhasil dievakuasi ke Posko Lapangan. “Selanjutnya korban dibawa ke RSUD Dr. Achmad Muchtar [Bukittingi],” kata Juru bicara Basarnas, Arief Pratama dalam keterangan tertulis kepada media, Senin malam, 4 Desember 2023.
Dengan demikian, dari korban yang sejauh ini tercatat pihak berwenang masih terdapat delapan korban tewas yang belum dievakuasi, dan 12 lainnya masih dalam pencarian.
Arief melanjutkan, delapan korban meninggal saat ini masih dalam proses evakuasi ke Posko. “Malam ini tim masih fokus melakukan evakuasi,” katanya dikutip dari BBC News Indonesia , Senin, 4 Desember 2023.
“Untuk pencarian 12 Orang pendaki yang belum ditemukan dihentikan sementara waktu,” lanjut Arief.
Berdasarkan data dari Basarnas Padang, ada 75 pendaki yang terjebak saat Gunung Marapi Sumatera Barat (Sumbar) erupsi, pada Minggu sore, 3 Desember 2023.
Dengan evakuasi per Senin, 4 Desember, artinya sudah terdapat 55 yang dievakuasi, baik yang hidup dan meninggal. Sebagian dari mereka mengalami luka bakar, patah tulang, dan dirawat di rumah sakit di Padang Panjang dan Bukittinggi.
Gunung Marapi terletak di Kabupaten Agam dan Tanah Datar dengan ketinggian 2.891 meter dari permukaan laut.
Seorang anggota tim evakuasi Marapi, Syahlul Munal yang berada di lokasi mengatakan, saat ini korban meninggal yang tersisa masih berada di ketinggian “2.000an”.
“Ditemukan tim SAR, lokasinya pisah-pisah. Ada yang di pinggir jurang, ada yang di jalur pendakian, ada yang dekat lapangan bola – ini istilahnya lapangan puncaknya,” kata Munal kepada BBC News Indonesia, Senin, 4 Desember 2023.
Sejauh ini Tim SAR gabungan memprioritaskan untuk mengevakuasi korban meninggal.
Kalau yang 12 [hilang] ini, belum bisa dilakukan pencarian karena fokus 11 [meninggal] ini. Tunggu dulu gunung ini agak tenang, ditarik turun,” tambah Munal.
Saat ini tim masih berada di posko di atas gunung, dan bekerja secara bergiliran selama 1×24 jam.
Persoalan yang dihadapi, karena saat ini erupsi gunung masih terus berlangsung, dan jalur evakuasi licin.
“Kita rolling terus. Kalau ada celah untuk gunung nyaman, itu bisa menarik korban meninggal secepat mungkin. Kita berpacu dengan waktu,” kata Munal.
Guncangan Keras
Erupsi Gunung Marapi yang berlangsung pada Minggu sekitar pukul 14.57 WIB mengejutkan warga sekitar lantaran tiba-tiba terasa guncangan yang cukup keras sebelum munculnya awan hitam.
Seorang warga, Novelya Wirda yang tinggal satu kilometer dari kaki gunung bercerita, guncangan tersebut terasa selama 10 sampai 15 detik.
Setelah itu, ia melihat awan hitam membumbung tinggi.
“Saat itu langit langsung berubah menjadi gelap seperti saat magrib dan tidak lama setelah itu langsung turun hujan batu,” ucapnya kepada kepada wartawan.
Hujan batu tersebut turun bersama bebatuan kerikil dengan ukuran yang cukup besar seperti pasir yang biasa digunakan untuk bahan bangunan.
“Bahkan ada juga kerikilnya berukuran sebesar jempol kaki orang dewasa yang menghantam rumah warga sehingga membuat atapnya bocor,” katanya.
Hujan batu berlangsung kurang lebih 30 menit dan setelahnya reda diikuti hujan gerimis.
Khawatir Meletus
Saat kejadian tersebut dia sangat khawatir kalau-kalau Gunung Marapi akan meletus dan mengeluarkan lahar.
Pasalnya ia mencium bau belerang yang sangat menyengat dan membuatnya kesulitan bernapas meskipun berada di dalam rumah.
Meski begitu katanya, belum ada warga yang mengalami batuk atau mengalami gangguan kesehatan. Kegiatan sehari-hari warga berjalan seperti biasa tapi disarankan mengenakan masker saat keluar rumah.
Dia berharap pemda bergerak cepat menginformasi kepada warga sekitar soal apa yang harus dilakukan di tengah situasi erupsi Gunung Marapi. (*)



