JAKARTA – PDIP bisa rugi besar jika koalisi lima partai terbentuk. Pembentukan koalisi besar lima partai mencuat, usai pertemuan Presiden Jokowi dengan ketua umum PAN, Golkar, PKB, Gerindra, dan PPP di Jakarta pada Minggu 2 April 2023.
Pengamat politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga menyatakan hal tersebut seraya menambahkan, PDIP tak akan mampu melawan kekuatan politik dan finansial koalisi besar. Menurutnya, capaian-capaian PDIP di sejumlah lembaga survei tidak akan terwujud.
“Memang ini akan jadi kerugian besar bagi PDIP. Kenapa? Karena kita sejak reformasi melihat belum ada partai yang tidak berkoalisi bisa memenangkan pilpres,” ujarnya dikutip dari CNNIndonesia.com, Senin (3/4/2023).
Dikatakan, opsi terbaik bagi PDIP adalah bergabung dengan koalisi. Dia menyebut ada opsi PDIP bergabung dengan koalisi besar lima partai, ataupun Koalisi Perubahan pengusung Anies Baswedan.
“Kalau untuk mengejar menang, iya. Kalau untuk menang hattrick, tiga kali menang berturut-turut, sebaiknya berkoalisi,” terangnya.
PDIP punya opsi maju tanpa koalisi di Pilpres 2024. Mereka sudah punya tiket 20 persen kursi DPR RI untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden tanpa bantuan partai lain.
Jamiluddin melihat opsi ini lebih bagus efeknya bagi demokrasi. Masyarakat akan disajikan dengan pilihan kandidat yang lebih banyak.
“Prinsip demokrasi kan memberi banyak alternatif. Kalau hanya dua pilihan, maka alternatifnya dikotomis, tidak baik bagi pertumbuhan di Indonesia,” ucapnya lagi.
Koalisi Besar
Diketahui sebelumnya, Presiden Jokowi bertemu lima ketua umum partai di Kantor DPP PAN, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Minggu (2/4/2023). Mereka adalah Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PPP Mardiono.
Surya Paloh dari Nasdem dan Megawati Soekarnoputri (PDIP) diundang, tetapi tidak hadir karena keduanya disebut sedang tidak ada di Jakarta.
Dalam pertemuan, para ketua umum partai itu membahas rencana pendirian koalisi besar. Koalisi itu adalah peleburan dari Koalisi Indonesia Bersatu (Golkar, PAN dan PPP), dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (Gerindra dan PKB).
Wacana koalisi besar meleburnya poros-poros koalisi yang saat ini telah terbentuk kembali mencuat setelah disampaikan Ketum Golkar, Airlangga Hartarto. Koalisi besar juga bisa bersama NasDem, Demokrat, dan PKS yang baru mendeklarasikan Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).
Sedangkan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, usai pertemuan di Kantor DPP PAN, Jakarta, Minggu (2/4/2023) menyatakan, pihaknya merasa ada frekuensi yang sama, ada kecocokan dan kalau dilihat dari masing-masing pimpinan partai sudah masuk. (*)



