JAKARTA – Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memutuskan, Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Akhmad Munir menang voting sebagai Ketua Umum periode 2025–2030. Ia memperoleh 52 suara mengalahkan Hendry Ch. Bangun kandidat lain yang hanya meraih 35 suara.
Acara yang berlangsung di Balai Pelatihan dan Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (BPPTIK) Komdigi, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu, 30 Agustus 2025 malam diikuti peserta pemegang hak suara dari seluruh PWI Provinsi. Hak suara masing-masing provinsi ditetapkan berdasarkan jumlah anggota PWI aktif. Misalnya PWI Jakarta Raya dengan jumlah anggota aktif sebanyak 345 memiliki tiga suara. Penetapan hak suara tersebut juga mengacu keputusan Kongres PWI ke 25 Bandung tahun 2023.
Pada kesempatan yang sama, Kongres juga memilih Ketua Dewan kehormatan. Adapun Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat terpilih, Atal S. Depari dengan perolehan 44 suara unggul tipis dari Sihoni HT yang memperoleh 42 suara.
Hasil tipis ini mencerminkan dinamika internal PWI yang hidup, sekaligus menunjukkan bahwa setiap suara anggota memiliki bobot penting dalam perjalanan organisasi.

Disambut Gemuruh
Begitu hasil penghitungan suara diumumkan, ruangan kongres seketika bergemuruh oleh tepuk tangan dan sorak sorai peserta. Sebagai bentuk penghormatan, Munir dan Atal Depari dikalungkan selendang sutera khas Bugis, simbol sakral yang menandai lahirnya kepemimpinan baru.
Tak menunggu waktu lama, Cak Munir demikian sapaan akrab Ketua Umum baru, langsung memimpin Rapat Pleno III Kongres PWI yang menetapkan tiga formatur penyusun kepengurusan periode 2025–2030. Mereka adalah Fathurrahman (Sumatra), Lutfil Hakim (Jawa), dan Sarjono (Sulawesi). Ketiga formatur diberi waktu 30 hari kerja merampungkan struktur organisasi PWI lima tahun mendatang.
Terpilihnya Munir menjadi babak penting bagi PWI yang kini menghadapi derasnya arus disrupsi digital. Maraknya hoaks, gempuran konten instan tanpa verifikasi, serta krisis kepercayaan publik terhadap media menuntut kepemimpinan yang kuat, tegas, dan visioner.
Pidato Perdana
Dalam pidato perdananya, Cak Munir menekankan komitmennya untuk menjadikan PWI sebagai “rumah besar seluruh wartawan Indonesia”. Ia menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi, literasi digital, serta penguatan etika jurnalistik.
“Kita tidak boleh terjebak pada arus instan. PWI harus berdiri sebagai garda depan dalam menjaga kualitas informasi, sekaligus membangun kepercayaan publik melalui jurnalisme yang profesional dan berintegritas,” tegasnya dilansir hariandialog.co.id.
Munir yang kini menjabat Direktur Utama LKBN Antara juga dikenal sosok berpengalaman di dunia pers. Ia pernah menjabat Ketua PWI Jawa Timur dua periode dan aktif sebagai wartawan sejak 1991.
Dalam visinya, menegaskan akan menjadikan PWI sebagai organisasi yang berwibawa, bermartabat, dan siap menghadapi era digitalisasi.
Ia juga bertekad membawa PWI sebagai komunitas yang solid dengan semangat rekonsiliasi dan pemersatu wartawan Indonesia.
Dalam Kongres beredar berbagai penilaian dan harapan. Di bawah kepemimpinan ketua umum baru, PWI dihadapkan pada agenda besar: melindungi wartawan dalam menjalankan tugasnya, meningkatkan kesejahteraan anggota, memperkuat pelatihan kompetensi, hingga menjalin hubungan sinergis dengan pemerintah dan masyarakat tanpa mengorbankan independensi pers.
Keterpilihan Munir juga bukan sekadar kemenangan personal, tetapi simbol harapan baru bagi dunia pers Indonesia. Dengan arah kebijakan yang tepat, PWI diharapkan mampu menjaga marwah jurnalisme di tengah era digital yang penuh tantangan sekaligus peluang.
Dengan mandat yang telah diberikan, Munir mengemban tanggung jawab besar: memastikan PWI tetap menjadi benteng pers yang kredibel, independen, dan dipercaya publik di tengah perubahan zaman yang serba cepat. (*)



