BATAM – Langit mendung tak menyurutkan semangat warga Batam untuk datang ke Lapangan Engku Putri, ruang publik yang menjadi pusat aktivitas olahraga dan interaksi sosial masyarakat. Sejak pagi, kawasan ini dipadati warga dari berbagai usia, baik yang berjalan santai, berlari kecil, hingga bersepeda menyusuri jogging track yang mengelilingi dataran utama.
Jurnalis HMS yang hadir langsung dalam suasana tersebut, turut mencatat berbagai potret kehidupan dan harapan yang tumbuh di ruang publik kebanggaan warga Batam ini.
Ibu Dede dan Semangat Mengais Rezeki
Di salah satu sisi lapangan, tampak sosok perempuan lanjut usia dengan senyum ramah menyambut pembeli. Ibu Dede, 65 tahun, adalah pedagang musiman yang berjualan minuman ringan setiap Sabtu dan Minggu. Sudah dua tahun ia menempati lokasi tersebut. Meski usia tak lagi muda, semangatnya untuk mandiri dan menghidupi diri tetap menyala.
“Alhamdulillah, dari jualan ini bisa buat beli beras dan kebutuhan harian. Namanya juga usaha,” ujar Ibu Dede yang berasal dari Jawa Barat dan kini menetap di Kampung Nanas, Batam.

Keberadaannya menjadi bukti bahwa Lapangan Engku Putri bukan hanya tempat rekreasi, tapi juga ruang ekonomi bagi masyarakat kecil.
Senam, Sepeda, dan Senyum Warga
Tak jauh dari lokasi Ibu Dede berjualan, sejumlah ibu-ibu tampak bersemangat mengikuti senam pagi yang diiringi musik ceria. Meski langit tampak kelabu dan hujan rintik-rintik mulai turun, antusiasme mereka tak luntur berada di alun-alun.
“Kami sudah biasa senam di sini. Sekalian jaga kesehatan, bisa silaturahmi juga,” ujar salah satu peserta senam saat ditemui HMS.
Sementara itu, berbagai kelompok dan perorangan memenuhi lintasan jogging track. Ada yang berolahraga secara rutin, ada pula yang sekadar melepas penat bersama keluarga.
Cita-Cita Remaja di Tengah Lapangan Kota
Dalam perjalanan mengelilingi kawasan, jurnalis HMS bertemu sekelompok remaja dari sebuah sekolah boarding di Batam. Mereka terlihat berolahraga sambil bercanda tawa. Arinal Harahap, seorang guru pengajar Bahasa Arab dan Alquran, menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan setiap pekan sebagai bagian dari pembinaan jasmani dan interaksi sosial murid-muridnya.
Yang menarik, saat HMS melemparkan pertanyaan sederhana soal cita-cita, salah satu siswa menjawab dengan polos namun jujur:
“Yang penting bisa berguna dan dapat duit!” ujarnya disambut gelak tawa teman-temannya. Tak lama kemudian ia menambahkan, “Kalau bisa sih jadi Ustad.”
Dua teman lainnya, Aga dan Saddam, menyampaikan kecintaan mereka terhadap futsal. Ketika ditanya soal cita-cita, Saddam menjawab mantap, “Saya ingin jadi Nakhoda kapal!”

Semangat dan optimisme mereka menggambarkan betapa ruang publik seperti Engku Putri tidak hanya menjadi tempat fisik, tapi juga wadah tumbuhnya mimpi dan semangat generasi muda.
Harapan Akan Tata Kelola Ruang Publik
Dari pantauan langsung HMS, lapangan ini telah berfungsi sangat baik sebagai pusat kebugaran, ruang santai, hingga sarana ekonomi. Namun, tantangan tetap ada: mulai dari pengelolaan pedagang musiman, pengaturan kebersihan, hingga keamanan pengunjung.
Pemerintah Kota Batam diharapkan lebih aktif melakukan penataan, seperti:
• Memberikan pembekalan dan pelatihan kepada pedagang musiman
• Menetapkan zona-zona khusus untuk aktivitas ekonomi
• Meningkatkan fasilitas sanitasi dan kebersihan
• Memperkuat pengamanan dan pencahayaan di malam hari
Dengan tata kelola yang baik, Lapangan Engku Putri berpotensi menjadi ikon ruang publik yang sehat, humanis, dan produktif bukan hanya untuk warga Batam, tapi juga sebagai daya tarik wisata kota.
Menutup Hari di Tengah Mendung
Menjelang siang, awan semakin tebal dan angin bertiup pelan. Jurnalis HMS pun bersiap meninggalkan lokasi setelah menyerap banyak cerita dan energi dari warga yang hadir. Beberapa anak-anak masih bermain, cuaca semakin mendung, pertanda hujan akan turun.
Namun, di tengah langit yang abu-abu, suasana Engku Putri tetap berwarna.



