Selasa, 13 Januari 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Blood Moon istilah untuk menyebut tampilan bulan yang berubah kemerahan ketika terjadi Gerhana Bulan Total. (Foto: Ist./ disway.id)

Indonesia Berkesempatan Saksikan “Blood Moon” Selama 82 Menit

4 September 2025
H. Achmad Ristanto H. Achmad Ristanto
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Fenomena langit langka akan terjadi pada Minggu, 7 September 2025 malam hingga dini hari tanggal 8 September. Masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan gerhana bulan total atau yang populer disebut Blood Moon, ketika Bulan tertutup bayangan Bumi sepenuhnya dan memancarkan cahaya kemerahan yang dramatis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gerhana akan berlangsung selama lebih dari lima jam. Fase totalitas atau saat Bulan benar-benar memasuki bayangan inti Bumi terjadi selama satu jam 22 menit, dimulai pukul 00.30 WIB dan berakhir pukul 01.53 WIB. Puncak gerhana jatuh pada pukul 01.11 WIB.

Seluruh Wilayah

“Fenomena ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia selama kondisi cuaca cerah. Tidak diperlukan alat khusus, namun penggunaan teleskop atau teropong akan memperkaya pengalaman pengamatan,” ujar peneliti astronomi Observatorium Bosscha.

Berita Lain

Kata Bos Ciputra, Sektor Properti Bakal Melonjak Tahun 2026

Presiden Resmikan Kilang Minyak Terbesar di Balikpapan, RI Kurangi Impor BBM

HUT PDIP ke-53: Ketum Tandatangani Akta Notaris Pendirian Kantor Megawati Institute

Jokowi Ikut Disebut dalam Konstruksi Perkara Korupsi Eks Menag Yaqut

Gerhana bulan kali ini termasuk dalam siklus Saros 128 dan bertepatan dengan fase Bulan purnama yang berada dekat titik perigee, sehingga Bulan akan tampak sedikit lebih besar dari biasanya.

Saat gerhana total berlangsung, langit akan menjadi lebih gelap dan memungkinkan masyarakat melihat planet terang seperti Saturnus serta bintang Fomalhaut di sekitar Bulan.

Fenomena alam ini dapat disaksikan dari hampir 85 persen wilayah populasi dunia, termasuk Asia, Afrika, Australia, dan Eropa. Adapun Amerika Utara dan Selatan tidak dapat menikmati totalitas karena Bulan belum terbit saat gerhana berlangsung.

Masyarakat diimbau untuk menyiapkan lokasi pengamatan dengan pandangan langit terbuka, menghindari polusi cahaya, serta memperhatikan kondisi cuaca. Fenomena ini diperkirakan akan menjadi salah satu tontonan langit paling indah pada tahun 2025. (*)

Berita Lain

Sejumlah kendaraan bermotor melintas saat hujan deras melanda kawasan Blok A, Jakarta Selatan. (Foto: Ist./ cnbcindonesia.com).

Peringatan BMKG: Jabodetabek Hujan Lebat-Angin Kencang

16 November 2025
Sejumlah warga saat beraktivitas di luar ruangan di bawah teriknya matahari, Jakarta, Selasa, 14 Oktober 2025. (Foto: Ist./ detikcom).

BMKG Ungkap Penyebab Jakarta Panas Sampai 35 Derajat Celsius

15 Oktober 2025

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS