JAKARTA – Fenomena langit langka akan terjadi pada Minggu, 7 September 2025 malam hingga dini hari tanggal 8 September. Masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan gerhana bulan total atau yang populer disebut Blood Moon, ketika Bulan tertutup bayangan Bumi sepenuhnya dan memancarkan cahaya kemerahan yang dramatis.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, gerhana akan berlangsung selama lebih dari lima jam. Fase totalitas atau saat Bulan benar-benar memasuki bayangan inti Bumi terjadi selama satu jam 22 menit, dimulai pukul 00.30 WIB dan berakhir pukul 01.53 WIB. Puncak gerhana jatuh pada pukul 01.11 WIB.
Seluruh Wilayah
“Fenomena ini dapat diamati di seluruh wilayah Indonesia selama kondisi cuaca cerah. Tidak diperlukan alat khusus, namun penggunaan teleskop atau teropong akan memperkaya pengalaman pengamatan,” ujar peneliti astronomi Observatorium Bosscha.
Gerhana bulan kali ini termasuk dalam siklus Saros 128 dan bertepatan dengan fase Bulan purnama yang berada dekat titik perigee, sehingga Bulan akan tampak sedikit lebih besar dari biasanya.
Saat gerhana total berlangsung, langit akan menjadi lebih gelap dan memungkinkan masyarakat melihat planet terang seperti Saturnus serta bintang Fomalhaut di sekitar Bulan.
Fenomena alam ini dapat disaksikan dari hampir 85 persen wilayah populasi dunia, termasuk Asia, Afrika, Australia, dan Eropa. Adapun Amerika Utara dan Selatan tidak dapat menikmati totalitas karena Bulan belum terbit saat gerhana berlangsung.
Masyarakat diimbau untuk menyiapkan lokasi pengamatan dengan pandangan langit terbuka, menghindari polusi cahaya, serta memperhatikan kondisi cuaca. Fenomena ini diperkirakan akan menjadi salah satu tontonan langit paling indah pada tahun 2025. (*)



