JAKARTA – Mantan Menteri Agama era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Suryadharma Ali meninggal dunia, Kamis, 31 Juli 2025 pukul 04.25 WIB di RS Mayapada, Kuningan, Jakarta Selatan.
Informasi duka cita itu dibenarkan Juru Bicara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Usman Tokan. “Iya benar,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Jenazah Suryadharma Ali (69 tahun) yang juga mantan Ketua Umum PPP, disemayamkan di rumah duka, Jalan Cipinang Cempedak I No.30, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.
Rencananya, prosesi pemakaman dilaksanakan di Pondok Pesantren Miftahul ‘Ulum, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Mantan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani, mengenang almarhum Suryadharma Ali (SDA) sebagai sosok yang berjasa besar dalam perjalanan politiknya. Menurutnya, semasa hidupnya almarhum pribadi yang penuh kebaikan dan memiliki sifat mudah mempercayai orang lain, meskipun hal itu sempat membawa dampak negatif dalam hidupnya.
“Pak SDA orang baik, selalu berprasangka baik (khusnudzon) dan mudah percaya sama orang, meski kemudian ada saja yang memanfaatkan sifat khusnudzonnya dan mudah percayanya itu sehingga membawa musibah hukum bagi beliau,” kata Arsul Sani yang kini menduduki salah satu Hakim Mahkamah Konstitusi kepada wartawan, Kamis, 31 Juli 2025 dilansir jawapos.com.
Disambut Hangat
Ia mengaku pertama kali bergabung ke PPP atas ajakan Lukman Hakim Saifuddin dan Soleh Amin. Keputusannya untuk masuk ke partai berlambang Ka’bah itu pun mendapat sambutan hangat dari Suryadharma Ali.
Bahkan, ia langsung dipercaya menduduki posisi strategis meski belum lama saling mengenal.
“Pak SDA juga orang yang perhatian terhadap anak buah dan orang lain. Ketika saya bersedia diajak Pak Lukman Hakim Saifuddin dan Pak Soleh Amin masuk PPP, beliau menempatkan saya sebagai Ketua LBH DPP PPP meski baru saling kenal,” kenangnya.
Selama menjadi pengurus PPP di bawah kepemimpinan Suryadharma Ali, Arsul merasa tidak pernah diperlakukan sebagai bawahan. Ia menyebut, hubungan mereka lebih seperti teman berdiskusi, terutama saat membahas isu-isu hukum.
“Setiap diskusi isu hukum dengan beliau, maka itu sebagai obrolan antarteman, tidak model percakapan pimpinan dan anak buah,” ucap Arsul. (*)



