Senin, 15 Desember 2025
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Mayor Jenderal Purn. Dr. Saurip Kadi dan naskah pernyataannya. (Foto: Ist./ kanca69).

Mayor Jenderal TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi: Kritik Forum Purnawirawan TNI Gagal Pahami Esensi Demokrasi

1 Mei 2025
H. Achmad Ristanto H. Achmad Ristanto
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Polemik pernyataan sejumlah purnawirawan TNI yang tergabung dalam Forum Purnawirawan TNI terhadap Presiden Prabowo Subianto, memantik respons tajam dari sesama tokoh militer senior.

Mayjen TNI (Purn) Dr. Saurip Kadi menyebut, kritik yang dilontarkan forum tersebut bukan hanya keliru secara substansi, tetapi juga mencerminkan kegagalan memahami norma dasar dan etika dalam sistem demokrasi.

Dalam pernyataannya Saurip menyampaikan, walau niat para purnawirawan mungkin dilandasi oleh rasa tanggung jawab moral terhadap bangsa, namun bentuk dan isi pernyataan mereka menunjukkan adanya miskonsepsi serius tentang tata kelola negara di era pascareformasi. Penyampaian aspirasi secara terbuka dan disertai tuntutan-tuntutan yang tidak berdasar, justru mengganggu iklim demokrasi yang sehat.

“Yang mereka sampaikan seolah-olah bersifat penyelamatan, padahal cara dan isi yang disuarakan mengandung pelanggaran terhadap norma demokrasi dan merusak etika politik,” ujar Saurip, Kamis, 1 Mei 2025 dilansir rmoljawatengah.id.

Berita Lain

Tiga Negara Bersaing Garap Proyek PLTN Pertama di Indonesia

Forum Kiai NU Jawa Ancam Bentuk PBNU Tandingan, Dorong H. Rhoma Irama Tokoh Pemersatu

Tarif Delapan Ruas Jalan Tol Diskon 20% Pada Periode Libur Nataru

Respons Pemerintah Usai Kalah Perkara Hotel Sultan dari Pontjo Sutowo

Salah satu kritik utama Saurip adalah seruan Forum Purnawirawan TNI untuk kembali ke UUD 1945 yang asli. Menurutnya, hal itu menunjukkan ketidaktahuan mendasar terhadap struktur konstitusi demokratis. Ia menjelaskan, UUD 1945 versi awal bersifat asistemik dan akonstitutif, karena tidak secara eksplisit mengatur keberadaan partai politik dan pemilu yang menjadi fondasi negara demokrasi.

“Demokrasi tak bisa berjalan tanpa partai politik dan pemilu. Bagaimana mungkin mereka ingin kembali ke sistem yang bahkan tak menyediakan alat kelola pemerintahan demokratis?” jelasnya.

Rezim Otoriter

Ia juga menilai, sistem yang lama justru membuka jalan bagi rezim otoriter dengan kedok Demokrasi Terpimpin maupun Demokrasi Pancasila yang pernah dijalankan di masa Orde Lama dan Orde Baru. “Mereka ingin kembali ke masa lalu, padahal sejarah telah membuktikan kegagalan pendekatan itu,” imbuhnya.

Forum tersebut juga menyuarakan penolakan terhadap proyek Ibu Kota Negara (IKN) dan bahkan menyebut kemungkinan pencopotan Wakil Presiden.

Bagi Saurip, hal ini sangat tidak berdasar karena kontrak politik dalam demokrasi ditegaskan melalui pemilu, di mana rakyat secara langsung memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden.

“Ini bukan monarki. Presiden dan wakil presiden adalah satu paket hasil pemilu. Tidak bisa dicopot hanya karena perbedaan pandangan,” tegas Saurip.

Ia mengingatkan bahwa hak pilih rakyat dalam pemilu adalah hak primer yang tidak boleh dikalahkan oleh tekanan kelompok mana pun. Bahkan jika rakyat salah memilih, sistem demokrasi tetap menuntut semua pihak menghormati hasil pemilu hingga masa jabatan berakhir.

Lebih lanjut, Saurip menyesalkan pilihan para purnawirawan untuk menyampaikan pernyataan mereka secara terbuka.

Menurutnya, sebagai pensiunan yang masih menerima gaji dari pajak rakyat, mereka seharusnya menjaga netralitas dan ketenangan publik, bukan justru menciptakan kegaduhan yang berpotensi memecah belah.

“Cara penyampaian mereka mengaburkan batas antara hak warga negara dan tanggung jawab moral sebagai mantan pejabat negara. Rakyat yang membayar pajak bukan hanya mereka yang mendukung forum itu,” ucapnya.

Saurip pun mendorong agar momentum ini dijadikan Presiden Prabowo sebagai langkah awal untuk melakukan reformasi birokrasi secara menyeluruh. Menurutnya, aparatur negara, baik sipil maupun militer, harus benar-benar diposisikan sebagai pelayan rakyat, bukan alat kekuasaan.

Ia juga menekankan pentingnya perumusan konstitusi baru yang lebih sistemik dan sesuai dengan semangat Pancasila. “Bangsa ini butuh UUD yang ber-DNA Pancasila. Itulah syarat mutlak agar demokrasi kita tidak terus diganggu oleh tafsir keliru dan nostalgia otoritarian,” katanya.

Menutup pernyataannya, perwira tinggi kelahiran Brebes Jawa Tengah ini menyampaikan harapan agar bangsa Indonesia mampu menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran. “Kalau kita ingin Indonesia Emas 2045 terwujud, maka semua pihak harus berjalan sesuai rel demokrasi. Tanpa itu, kita hanya akan mengulang luka lama,” tutupnya. (*)

Berita Lain

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menerima audiensi SMA Taruna Nusantara. (Foto: Ist./Dok. Puspen TNI).

SMA Taruna Nusantara Buka Tiga Kampus Baru, TNI Siapkan Perwira Jabat Kepala Sekolah

22 Oktober 2025
Foto dokumentasi saat Presiden Prabowo Subianto mengadakan buka puasa bersama dengan Presiden ke-7 Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 26 Maret 2025 malam. (Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden).

Presiden Prabowo Kumpulkan Para Tokoh Usai Bertemu Jokowi

5 Oktober 2025

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS