JAKARTA – Performa ekonomi Indonesia mendapat sorotan media internasional, setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2025 mencapai 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Media asing arus utama seperti CNBC, Reuters, hingga VNA menyoroti capaian ekonomi Indonesia lebih tinggi dari ekspektasi pasar, termasuk jajak pendapat Reuters yang memperkirakan pertumbuhan kuartal II hanya 4,80 persen saja.
Dikutip dari Kompas.com, CNBC per Selasa, 5 Agustus 2025 menuliskan capaian pertumbuhan ekonomi Tanah Air melampaui ekspektasi pasar dan disebut sebagai yang tertinggi sejak kuartal II-2023.
Sebelum rilis data BPS, Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 4,6 persen hingga 5,4 persen untuk tahun ini.
BI sendiri telah menurunkan suku bunga kebijakan sebanyak empat kali sejak September 2024 untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Daya Tahan
CNBC melaporkan Indonesia menjadi salah satu negara berkembang yang menunjukkan daya tahan ekonomi kuat di tengah tekanan global. Sejumlah analis internasional memandang tren ini sebagai sinyal positif, meskipun beberapa indikator domestik seperti konsumsi dan belanja pemerintah masih menunjukkan tantangan.
Reuters juga melaporkan hal serupa. Media keuangan global ini mencatat bahwa kinerja ekonomi Tanah Air pada kuartal II melebihi dari survei mereka yang memperkirakan pertumbuhan hanya 4,80 persen.
Tak hanya itu, media asal Vietnam, VNA, memberitakan, berdasarkan data BPS, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan, menyumbang 2,64 poin persentase terhadap produk domestik bruto (PDB). Investasi, yang tercermin lewat pembentukan modal tetap bruto (PMTB), menyumbang 2,06 poin, sementara konsumsi pemerintah hanya berkontribusi 0,22 poin.
Belum Pulih
Meski tampak positif, sejumlah ekonom mempertanyakan kekuatan fundamental di balik capaian tersebut. Konsumsi masyarakat belum pulih sepenuhnya, sementara investasi swasta masih tampak menunggu arah kebijakan yang lebih jelas.
Lebih jauh, lanjut VNA, sejumlah indikator lain turut memperkuat keraguan. Purchasing Managers’ Index – PMI (Indeks Manajer Pembelian) sektor manufaktur yang konsisten di bawah level 50 sepanjang kuartal II menunjukkan sektor industri masih dalam fase kontraksi.
Penurunan penerimaan pajak konsumsi dan lesunya penjualan kendaraan juga menggambarkan lemahnya daya beli masyarakat. (*)



