JAKARTA – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri tak kuasa menahan tangis saat menyerukan ajakan membangun dunia baru yang tak tunduk pada mesin dan modal.
Presiden Kelima RI itu pun mengajak seluruh bangsa menghadiri dunia baru yang berkeadilan dan berperikemanusiaan dan menolak tatanan global tersebut.
“Dari Blitar ini, dari pusara Bung Karno, saya ingin menyerukan kepada dunia, mari kita bangun dunia yang baru. Dunia yang tidak tunduk pada mesin dan modal, tetapi yang menempatkan manusia sebagai pusat peradaban dunia,” seru Megawati sambil terisak dalam Seminar Memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Blitar, Jawa Timur, Sabtu, 1 November 2025.
Dikatakan, pembangunan dunia ke depan harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban, bukan kekuasaan dan kepentingan ekonomi semata, dilansir kompas.com.
Ia juga menegaskan bahwa dunia baru yang dicita-citakan itu harus diatur oleh nilai-nilai Pancasila, bukan algoritma dan kekuatan modal. “Inilah saatnya kita meneruskan cita-cita Bung Karno dengan membangun dunia baru yang adil, beradab, dan lebih manusiawi. Itulah makna sejati dari to build the world a new,” ucapnya.
Usul KAA Plus
Dalam kesempatan yang sama, Megawati juga mengusulkan pembentukan Konferensi Asia-Afrika (AA) Plus sebagai wadah baru solidaritas negara-negara di kawasan selatan dunia (Global South).
“Saudara-saudara sekalian, oleh sebab itu dalam pertemuan yang sederhana ini tetapi sangat berarti, mari kita matangkan KAA Plus tersebut. Jangan hanya kita dengarkan, jangan hanya bicara saja, mari kita berbuat,” tandas Megawati.
Ia pun mengingatkan bahwa peringatan 70 tahun KAA di Blitar bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan momentum untuk menyalakan kembali semangat Bandung yang menolak ketidakadilan global. “Peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Blitar ini bukanlah sekadar nostalgia sejarah. Melainkan panggilan zaman untuk menyalakan kembali obor Bandung dalam wajah baru, yakni pentingnya solidaritas global, suatu persaudaraan baru antara Asia, Afrika, dan Amerika Latin, serta siapa saja dari negara lain yang bersatu untuk menegakkan keadilan teknologi, ekonomi, dan kemanusiaan,” pungkas Megawati. (*)



