Kamis, 21 Mei 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Kondisi anak-anak dari keluarga miskin di benua Afrika. (Foto: Ist./ SurabayaNetwork.id).

Penghitungan Garis Kemiskinan Bank Dunia Jadi US$3,00/Hari

12 Juni 2025
Mangatur Nainggolan, S.E. Mangatur Nainggolan, S.E.
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Bank Dunia mengubah penghitungan garis kemiskinan. Perubahan ini langsung berimbas pada kenaikan jumlah orang miskin di dunia.

Dalam lembaran laporan statistik Bank Dunia edisi Juni 2025, kemiskinan ekstrem global ternyata lebih tinggi dari yang semula diperkirakan. Sebanyak 125 juta orang yang sebelumnya tak terhitung, kini diklasifikasikan sebagai ekstrem miskin. Bukan karena dunia makin buruk, tapi karena ukuran yang kita pakai selama ini terlalu ringan untuk kenyataan.

Pembaruan Juni 2025 oleh Bank Dunia memperkenalkan garis kemiskinan baru dari US$2,15 menjadi US$3,00 per hari atau sekitar Rp48.795 (US$1=16.265).

Pergeseran ini bukan semata inflasi melainkan penyesuaian menyeluruh terhadap standar hidup minimum, berdasarkan data pembanding harga internasional tahun 2021. Hasilnya angka kemiskinan global untuk 2022 direvisi naik dari 713 juta menjadi 838 juta jiwa.

Berita Lain

PWI Jaya Gelar UKW Angkatan ke-65 di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat

Raja Salman Undang 42 Tokoh WNI Tunaikan Ibadah Haji Gratis

Wapres Gibran Panggil KSP Dudung, Bahas Perbaikan BGN

Kasus Korupsi Importasi: KPK Panggil 12 Pejabat Seksi Intelijen Cukai

Dilansir cnbcindonesia.com, sebagian besar lonjakan ini datang dari Sub-Sahara Afrika. Kawasan tersebut kini menyumbang dua pertiga dari seluruh ekstrem miskin dunia, dengan 45,5% penduduk hidup di bawah US$3,00 per hari. Bahkan pada ambang US$8,30 standar hidup negara menengah atas 88% masyarakatnya masih masuk kategori miskin. Yang kontras justru muncul dari Asia Selatan.

Berkat metodologi baru dan rilis data konsumsi rumah tangga terbaru dari India, kemiskinan ekstrem di kawasan ini justru turun dari 186 juta menjadi 141 juta jiwa. Namun, penurunan ini bukan karena perubahan kondisi, melainkan karena koreksi atas metode lama yang terlalu menyederhanakan konsumsi rumah tangga di India.

Pergeseran metodologi ini menyoroti fakta bahwa data kemiskinan bukan entitas statis, melainkan hasil dari cara pandang. Dengan purchasing power parity (PPP) atau paritas daya beli terbaru, garis US$3,00 dianggap lebih representatif terhadap kebutuhan dasar minimum di negara-negara berpenghasilan rendah.

Secara global, kemiskinan ekstrem kini diperkirakan hanya akan turun dari 10,5% pada 2022 menjadi 9,9% pada 2025. Perlambatan ini mencerminkan realitas bahwa tanpa perbaikan struktural di kawasan paling tertinggal terutama Afrika, target penghapusan kemiskinan pada 2030 tidak hanya jauh, tetapi nyaris utopis.

Hampir separuh penduduk dunia masih hidup di bawah pengeluaran US$8,30 per hari atau sekitar Rp134.995. Artinya, kemiskinan dalam dimensi lebih luas akses terhadap pendidikan berkualitas, air bersih, atau ruang hidup yang layak masih menjadi masalah global, bahkan di luar definisi “ekstrem” sekalipun. (*)

Berita Lain

Data tidak ditemukan

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS