BATAM – Pagi itu, langit Batam masih teduh ketika puluhan siswa dari Korea Selatan tiba di Shelter Akar Bhumi Indonesia, yang terletak di tepi hutan mangrove Tanjung Piayu. Tak butuh waktu lama, sepuluh siswa dari Bold School Korea Selatan pun sudah sibuk menanam bibit mangrove jenis Rhizophora yang telah disediakan.
Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar perjalanan wisata ke luar negeri, melainkan perjalanan untuk menanam dan berkontribusi.
“Pohon bakau ini adalah harapan di masa depan,” ujar Junewoo Rhee, salah satu siswa dari Bold School, setelah selesai menanam bibit mangrove, Sabtu, 12 Juli 2025.
Pernyataan sederhana tersebut mencerminkan kesadaran besar akan pentingnya menjaga alam, bahkan jauh dari tanah kelahiran mereka.
Tanjung Piayu merupakan salah satu dari sedikit kawasan mangrove yang tersisa di Batam. Kawasan ini kini menjadi benteng alami melawan abrasi dan perubahan iklim, di tengah tekanan pembangunan kota dan ekspansi kawasan industri yang semakin pesat. Sejak 2020, hutan ini mulai direhabilitasi melalui kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Akar Bhumi Indonesia.
Jaechan Tim Daniel, siswa lainnya, menyebut bahwa pengalaman menanam mangrove mengajarkan nilai kesabaran dan ketulusan.
“Menanam bakau adalah pengalaman yang sangat bermakna, karena kami baru saja belajar bahwa pohon ini membutuhkan waktu 30 tahun untuk tumbuh. Mungkin saya tidak akan ada di sini saat pohon itu besar nanti, tapi saya telah memulai sesuatu yang baik sebagai anak muda,” katanya.
Menurut Daniel, perubahan bisa dimulai dari tindakan kecil, cukup dengan melakukan yang terbaik sebagai individu.
Hal serupa juga diungkapkan Jisu Bang. “Ini pertama kalinya saya menanam pohon mangrove, dan ternyata pengalaman ini sangat menarik karena ini pertama kalinya saya melihat mangrove secara langsung. Menanamnya cukup mudah, hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit.”
Siswa lain, Soyun Park pun merasakan hal yang sama. “Hari ini adalah kali pertama saya datang ke Batam, dan sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang mangrove. Tapi di sini, saya belajar banyak, dan ini menjadi kesempatan besar bagi saya untuk berkontribusi bagi lingkungan,” ujarnya.
Baginya, penting untuk menyebarkan semangat ini kepada pemuda lain di seluruh dunia. Menanam pohon adalah tindakan sederhana yang bisa memberikan dampak besar, apalagi di tengah krisis iklim yang semakin nyata. Ia juga menambahkan bahwa proses menanam di lumpur ternyata tidak sesulit yang dibayangkannya.
“Hanya perlu menancapkan pohon ke dalam lumpur lalu mengikatkan tali,” katanya.
Hendrik Hermawan, pendiri Akar Bhumi Indonesia, mengatakan bahwa partisipasi siswa asing menjadi bagian penting dari kampanye penyelamatan lingkungan yang mereka gaungkan. Selain dari Korea, wisatawan dari berbagai negara juga mulai ikut menanam mangrove di Hutan Lindung Tanjung Piayu sebagai bagian dari program ekowisata yang mereka jalankan. Tercatat, dari Maret 2024 hingga Juli 2025, sebanyak 5.600 turis asal Tiongkok telah ikut menanam pohon di kawasan ini. Sementara dari Malaysia tercatat 700 orang, Singapura 150 orang, dan Korea Selatan 15 orang.
“Setiap hari rata-rata ada 30 turis yang ikut menanam mangrove. Kami ingin menyampaikan bahwa siapa pun bisa berkontribusi menjaga bumi, tak harus menjadi ahli lingkungan atau memiliki dana besar. Cukup dengan satu pohon, satu tindakan,” ujar Hendrik.
Pulau Batam, dengan luas sekitar 715 kilometer persegi, merupakan wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama akibat kenaikan muka air laut. Mangrove menjadi pelindung alami yang sangat penting. Sayangnya, banyak kawasan mangrove di Batam telah rusak atau berubah fungsi.
Selain program-program, suara dari generasi muda seperti Junewoo, Daniel, Jisu, dan Soyun juga dibutuhkan sebagai harapan. Mereka datang dari negeri yang jauh, membawa pesan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dijaga.



