Kamis, 22 Januari 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Menara pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir Ceko yang menggunakan reaktor buatan Soviet. Empat reaktor yang sedang dibangun di China dibuat dengan teknologi Rusia. (Foto: Ist./ Reuters)

Tiga Negara Bersaing Garap Proyek PLTN Pertama di Indonesia

14 Desember 2025
H. Achmad Ristanto H. Achmad Ristanto
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah mempertimbangkan penawaran teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dari Rusia, Korea Selatan, dan Kanada untuk proyek PLTN pertama, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung menegaskan bahwa pemilihan mitra akan didasarkan pada aspek efisiensi, besaran investasi, serta daya saing harga listrik.

“Kami akan melihat dari sisi pembangunan PLTN mana yang lebih efisien dan kompetitif, serta dari sisi hasil listrik yang dihasilkan,” ujar Yuliot, dikutip di Jakarta, Sabtu, 13 Desember 2025 dilansir sindonews.com.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan kesediaannya membantu Indonesia mengembangkan energi nuklir, saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kremlin, Rabu, 10 Desember 2025.

Berita Lain

Lima Universitas di Brunei Darussalam Tawarkan Kuliah Gratis untuk WNI

Disdik DKI Jakarta Larang Siswa Gunakan Gawai Selama Jam Belajar di Sekolah  

ESDM Tetapkan 301 Blok Wilayah Pertambangan Rakyat di Sumbar

Bina Kemampuan, TNI AL Kodaeral IV Gelar Latihan Menembak

Persetujuan IAEA

Saat ini pemerintah sedang memfinalisasi regulasi berupa Peraturan Presiden (Perpres) tentang pembentukan Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO), yang menjadi salah satu persyaratan dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

“Untuk PLTN, kami harus memenuhi ketentuan IAEA. Draf Perpres tersebut telah selesai harmonisasi dan sedang dalam proses pengundangan,” kata Yuliot.

Setelah Perpres diterbitkan, pemerintah akan menyampaikannya kepada IAEA untuk memperoleh persetujuan NEPIO sebelum proyek fisik dimulai.

Opsi teknologi yang dipertimbangkan mencakup reaktor modular kecil ( Small Modular Reactor /SMR) berkapasitas sekitar 250 megawatt hingga reaktor skala besar dengan kapasitas mencapai 1,4 gigawatt.

Peta Jalan

Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa peta jalan pengembangan PLTN telah disusun hingga 2034 dengan total kapasitas 500 MW.

Pembangunan akan dilakukan masing-masing 250 MW di Sumatra dan Kalimantan menggunakan teknologi SMR.

Indonesia tercatat memiliki 29 lokasi potensial untuk pembangunan PLTN yang tersebar dari Sumatra Utara hingga Papua Selatan. Pengembangan PLTN menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional, porsi energi nuklir dalam bauran energi nasional diproyeksikan mencapai 0,4 persen pada 2032 dan meningkat menjadi 12,1 persen pada 2060. (*)

Berita Lain

Sudirman Said mantan Menteri ESDM  (Foto: Ist./ detikcom).

Diperiksa Kejagung Terkait Kasus Petral, Sudirman Said Buka Suara

24 Desember 2025
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. (Foto: Humas BP).

Dorong Kebijakan Subtitusi LPG 3kg, BP Batam Dukung Kebijakan Jargas di Kota Batam

24 Desember 2025

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS