BATAM, HMStimes – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin masih tinggi pada awal 2026. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan sebagian besar kebutuhan bensin nasional masih dipenuhi dari luar negeri, dengan pasokan utama berasal dari negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Dalam periode 1 Januari hingga 1 April 2026, sekitar 64,23 persen impor bensin Indonesia berasal dari Singapura. Sementara itu, Malaysia menempati posisi kedua dengan porsi 27,18 persen.
Di luar kawasan tersebut, kontribusi impor bensin datang dari Oman sebesar 5,55 persen dan Uni Emirat Arab sebesar 3,03 persen.
Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM, Rizwi Jilanisaf Hisjam mengatakan, dominasi impor dari Singapura dan Malaysia dipengaruhi faktor kedekatan geografis serta kebutuhan domestik yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi dalam negeri.
“Importasi bensin masih didominasi dari Singapura dan Malaysia karena kebutuhan dalam negeri masih memerlukan pasokan dari luar,” kata Rizwi dilansir dari YouTube dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (9/4/2026) lalu.
Data ESDM juga mencatat, pada periode Januari–Februari 2026, total kebutuhan bensin nasional mencapai 5,68 juta kiloliter (kl). Dari jumlah tersebut, sekitar 3,44 juta kl atau 59 persen dipenuhi melalui impor, sedangkan 2,35 juta kl berasal dari produksi domestik.
Secara harian, kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 99.661 kl per hari. Dari jumlah itu, konsumsi untuk Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite tercatat sebesar 74.407 kl per hari, sementara bensin nonsubsidi (JBU) mencapai 25.254 kl per hari.



