BATAM, HMStimes – Program Badan Gizi Nasional (BGN) menghadapi sorotan serius setelah temuan zat kimia berbahaya boraks dalam menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang memicu keracunan massal di Air Asuk, Kabupaten Kepulauan Anambas. Kasus ini menimpa 162 pelajar dan membuka pertanyaan besar soal pengawasan keamanan pangan dalam program pemerintah tersebut.
BGN akhirnya mengumumkan hasil uji sampel makanan yang dikonsumsi para siswa dalam insiden pada 15 April 2026. Investigasi menemukan kandungan boraks serta cemaran bakteri berbahaya dalam sejumlah menu yang disajikan.
Ketua Tim Investigasi BGN, Arie Karimah Muhammad mengatakan, pengujian dilakukan dalam dua tahap. Tahap awal berupa rapid test oleh Dinas Kesehatan Anambas pada hari kejadian, kemudian dilanjutkan dengan uji laboratorium oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan Batam.
“Hasil rapid test menunjukkan adanya kandungan boraks pada telur kecap, tempe goreng, dan tumis sayur, dengan kadar antara 100 hingga 5.000 mg/L,” kata Arie, Selasa (5/5/2026).
Ia menegaskan, penggunaan boraks pada makanan seperti telur, sayur, dan tempe tidak memiliki alasan teknis yang dapat dibenarkan. Bahan pangan tersebut tidak memerlukan pengawet kimia dalam proses pengolahan normal.
“Ini menjadi perhatian serius karena penggunaannya tidak sesuai peruntukan dan berbahaya bagi kesehatan,” ujarnya.
Selain kandungan boraks, hasil uji laboratorium juga menemukan keberadaan bakteri patogen, yakni Escherichia coli dan Bacillus cereus. Bakteri E. coli terdeteksi pada telur kecap, air dapur, serta sisa makanan PAUD/TK, dengan konsentrasi tertinggi pada menu telur. Sementara itu, Bacillus cereus ditemukan pada nasi putih.
Secara medis, E. coli umumnya berasal dari kontaminasi kotoran dan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, mulai dari diare hingga infeksi serius. Adapun Bacillus cereus kerap muncul pada makanan yang disimpan dalam suhu tidak tepat dan dapat memicu keracunan makanan.
Sebagai langkah awal penanganan, BGN menutup sementara dapur MBG di Air Asuk. Penutupan dilakukan hingga waktu yang belum ditentukan, sambil menunggu hasil investigasi lanjutan untuk menelusuri sumber kontaminasi.
BGN juga menyatakan masih mendalami kemungkinan adanya kelalaian dalam proses pengolahan maupun distribusi makanan dalam program MBG tersebut.



