JAKARTA – Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Minggu, 1 Maret 2026 merilis pernyataan, yang mengungkapkan rekam jejak kelam intervensi Amerika Serikat (AS) ke Teheran.
Campur tangan “Negeri Paman Sam” itu bahkan sudah terjadi sejak tahun 1950-an, dan terbaru pada 28 Februari 2026 ketika serangan gabungan dengan Israel merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kedubes Iran di Jakarta menilai, hubungan kedua negara diwarnai permusuhan panjang yang mencakup kudeta politik, dukungan militer, sanksi ekonomi, hingga serangan langsung terhadap target Iran.
Berikut rangkuman poin-poin yang disebutkan dalam siaran pers yang diterima media dikutip Kompas.com.
- Kudeta 1953 dan awal permusuhan modern – Intervensi Amerika terhadap Iran dimulai dari kudeta 19 Agustus 1953 atau 28 Mordad 1332 yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh. Peristiwa itu disebut sebagai titik awal permusuhan panjang yang berlanjut dalam berbagai bentuk tekanan politik dan keamanan terhadap Iran.
- Sanksi Pascarevolusi 1979 – Setelah Revolusi Iran pada 1979, Amerika memberlakukan sanksi politik dan ekonomi pada masa awal kemenangan revolusi tersebut. Sanksi bertujuan menggagalkan revolusi yang disebut dalam dokumen, sebagai kemenangan atas kehendak rakyat Iran tanpa penggunaan senjata.
- Dukungan terhadap Irak dalam Perang 1980–1988- Pernyataan Kedubes juga menyoroti dukungan AS terhadap rezim Saddam Hussein dalam perang Irak-Iran yang berlangsung delapan tahun, sejak September 1980 hingga Agustus 1988.
Dalam perang tersebut, lebih dari 155.000 orang tewas di medan tempur langsung dan lebih dari 16.000 orang kehilangan nyawa akibat serangan peluruh kendali (rudal) serangan udara terhadap kota-kota. - Penembakan Pesawat Iran Air 1988.
Poin ini merujuk pada insiden penembakan pesawat penumpang Iran Air di atas Teluk Persia pada Juli 1988 oleh kapal perang USS Vincennes milik Amerika Serikat. Peristiwa itu mengakibatkan 291 penumpang tewas, termasuk 66 anak-anak . - Dukungan terhadap organisasi yang disebut teroris.
Kedubes Iran menyebut adanya dukungan AS terhadap organisasi yang disebut teroris, termasuk Organisasi Mujahidin Khalq (MKO), dalam serangkaian pembunuhan terhadap warga sipil, pejabat politik dan militer, serta ilmuwan nuklir Iran sejak 1980-an. Dokumen itu menyebutkan, Iran mencatat 17.000 korban teror yang disebut salah satu korban terbesar terorisme di dunia .
- Sanksi ekonomi sejak 2010 – Amerika juga disebut meningkatkan sanksi ekonomi terhadap Iran sejak 2010 dengan dalih yang dinilai tidak berdasar.
Sanksi ini pun menimbulkan kesulitan ekonomi bagi rakyat Iran.
- Pembunuhan komandan militer Iran pada 2020 – Pernyataan tersebut menyinggung pembunuhan salah satu komandan senior militer Iran atas perintah langsung Presiden Amerika saat itu, Donald Trump, pada Januari 2020 di Baghdad. Komandan itu disebut berada di Irak atas undangan pejabat militer Irak.
- Rangkaian serangan 2024–2025 – Dokumen Kedubes juga mencantumkan dukungan AS ke Israel terhadap serangan ke Konsulat Iran di Damaskus pada April 2024 .
Dukungan disebut kembali muncul dalam serangan terhadap pusat-pusat militer dan pertahanan Iran pada 26 Oktober 2024.
Pernyataan ini turut menyinggung sokongan terhadap serangan ke Iran pada 13 Juni 2025 yang disebut menyebabkan kematian para komandan militer senior.
Amerika juga disebut melakukan serangan langsung terhadap fasilitas nuklir Iran pada 22 Juni 2025.
- Peristiwa Januari 2026 – Dalam bagian awal dokumen, Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyebut serangan pada 28 Februari 2026 terhadap lokasi-lokasi sipil termasuk sekolah-sekolah menargetkan warga Iran yang sedang berpuasa di bulan Ramadhan.
Dokumen juga menyebut adanya pembajakan protes damai sipil pada Januari 2026 yang berubah menjadi kerusuhan, menyebabkan 2.427 orang gugur dari total 3.117 korban jiwa.
Pernyataan Kedubes Iran ditutup dengan penegasan, berbagai peristiwa tersebut dipandang sebagai bagian dari rekam jejak panjang intervensi dan permusuhan Amerika terhadap Iran selama beberapa puluh tahun terakhir. (*)



