Sabtu, 11 April 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Satu pesawat Garuda saat lepas landas. (Foto: Ist./ detik.com).

Kerugian Garuda Bengkak Meski Disuntik Modal Danantara Rp23,7 Triliun

19 Maret 2026
H. Achmad Ristanto H. Achmad Ristanto
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), emiten jasa angkutan udara milik pemerintah Indonesia, kembali mengalami kerugian pada tahun buku 2025. Kerugian GIAA bahkan naik sekitar 4,5 kali lipat pada 2025 menjadi US$322,4 juta, dari US$72,7 juta pada tahun sebelumnya.

Lonjakan kerugian itu tidak lepas dari kinerja pendapatan GIAA yang turun 5,85% secara tahunan, menjadi US$3,21 miliar pada 2025.

Di sisi lain, beban usaha operator maskapai Garuda dan Citilink ini hanya turun 0,17% menjadi US$3,1 miliar.

Dilansir idnfinancials.com, di luar bisnis inti, GIAA mencatat adanya kerugian akibat selisih kurs sebesar US$1,2 juta pada 2025. Di tahun sebelumnya, perseroan mencatat laba dari selisih kurs bersih ini mencapai Rp18 juta.

Berita Lain

Anggota DPR Apresiasi Temuan Cadangan Gas Baru PetroChina Jambi

Anggota Komisi III DPR Sebut RUU Perampasan Aset Berpotensi Tabrak UUD

Aturan Bayar Pajak Tanpa KTP Tidak Diabaikan, KDM Nonaktifkan Kepala Samsat

Waka Komisi III DPR Setuju Usulan BNN Larang Peredaran Vape

Sementara beban keuangannya meningkat 9,56% menjadi US$525,789 juta pada 2025 dan bagian laba dari entitas asosiasi turun 23,5% menjadi US$5,6 juta.

Suntikan Modal

Sebagai catatan, GIAA menerima suntikan modal senilai Rp23,7 triliun atau sekitar US$1,4 miliar dari Danantara pada akhir tahun 2025. Nilai tambahan modal itu menyusut dari rencana awal, yang disiapkan sebesar US$1,8 miliar.

Dengan pemangkasan tambahan modal itu, GIAA tak lagi melanjutkan ekspansi armada sesuai rencana awal jika mendapat tambahan modal US$1,8 miliar dari Danantara.

Pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, harga saham GIAA melonjak 9,38% menjadi Rp70 per lembar. Namun nilai transaksinya hanya Rp2,78 miliar hingga penutupan perdagangan.

Harga sahamnya sejak awal tahun ini pun telah turun lebih dari 28%. Namun dalam satu tahun terakhir, harga sahamnya telah mencatat kenaikan lebih dari 100%.

Mayoritas saham GIAA kini berada di bawah kendali pemerintah Indonesia melalui PT Danantara Asset Management, yang menguasai 91,11%. PT Trans Airways milik Chairul Tanjung juga tercatat sebagai pemegang 1,80% saham, demikian data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI)
yang diolah IDNFinancials. (*)

Berita Lain

Salah satu aset DSI yang disita Bareskrim Polri. (Foto: Ist./ detikcom.com).

Bareskrim Sita Kantor-Tanah Senilai Rp300 M di Kasus Dana Syariah Indonesia

13 Maret 2026
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Fitroh Rohcahyanto di Gedung Juang KPK, Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026. (Foto: Ist./kompas.com).

KPK Segera Umumkan Tersangka Perkara Korupsi Kuota Haji 2024

8 Januari 2026

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS