JAKARTA – Pemerintah akan membangun tangki penyimpanan minyak (oil storage) di Sumatra demi meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional hingga tiga bulan. Hal ini penting untuk memperkuat ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyatakan, kapasitas penyimpanan minyak nasional saat ini masih terbatas. Kapasitas penyimpanan RI baru mampu menopang kebutuhan sekitar 20 hingga 25 hari.
Ia menilai pembangunan fasilitas penyimpanan menjadi prioritas, agar pemerintah memiliki ruang yang cukup untuk menampung minyak dalam jumlah besar.
” Storage kita harus dibangun dulu. Untuk minimal tiga bulan. Kalau impor banyak mau taruh di mana? Emang faktanya begitu bukan salah siapa-siapa,” ujar Bahlil dalam Konferensi Pers di Kementerian ESDM, dikutip cnbcindonesia.com, Senin, 9 Maret 2026.
Target Tahun Ini
Menurutnya, feasibility study untuk proyek tersebut, saat ini sedang berjalan dan ditargetkan dapat mulai direalisasikan pada tahun ini.
Meski begitu, ia belum merinci secara detail lokasi pembangunan tangki penyimpanan tersebut.
“FS lagi jalan, target tahun ini dilakukan. Lokasi di Sumatra jangan tanya saya detailnya,” ujarnya.
Ia menilai pembangunan tangki penyimpanan menjadi prioritas sebelum pembangunan kilang baru. “BBM kita di Kilang. Kilang kita sampai RON 98 itu dibangun dalam negeri. Kalau crude ada, tinggal kilangnya yang dibangun,” kata Bahlil.
Berbagai Wilayah
Diketahui, sebelumnya Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merencanakan pembangunan kilang dan tangki penyimpanan minyak (oil storage) di berbagai wilayah. Mulai dari Lhokseumawe Aceh hingga Fakfak Papua Barat.
Hal ini menyusul diserahkannya 18 dokumen pra feasibility study (pra-FS) terkait proyek hilirisasi dari Tim Satgas Hilirisasi yang diketuai Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, kepada CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Rosan Roeslani.
Berdasarkan bahan paparan Kementerian ESDM, proyek ini masuk dalam daftar prioritas hilirisasi dan ketahanan energi nasional dengan investasi mencapai Rp.232 triliun. Terdiri dari proyek kilang senilai Rp160 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 44.000 orang, dan proyek tangki minyak senilai Rp72 triliun dengan serapan tenaga kerja 6.960 orang.
Adapun, proyek pembangunan kilang dan tangki minyak nantinya akan tersebar di 18 wilayah. Seperti Lhokseumawe, Sibolga, Natuna, Cilegon, Sukabumi, Semarang, Surabaya, Sampang, Pontianak, Badung (Bali), Bima, Ende, Makassar, Dongala, Bitung, Ambon, Halmahera Utara, Fakfak. (*)



