ACEH, HMStimes – Kepulan asap dan skenario mobil tangki terbakar di area stasiun pengisian bahan bakar sempat menjadi pusat perhatian dalam simulasi penanggulangan keadaan darurat yang digelar PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) di Kabupaten Aceh Besar. Simulasi itu dibuat menyerupai kondisi nyata untuk menguji kesiapan personel menghadapi potensi kebakaran di lingkungan SPBU.
Kegiatan yang berlangsung pada 8-10 Juni 2026 di SPBU CODO 13.233.404 tersebut menjadi bagian dari penguatan aspek keselamatan operasional. Dalam simulasi, skenario dimulai dari terjadinya luberan bahan bakar minyak (BBM) saat proses pembongkaran, yang kemudian diasumsikan memicu kebakaran pada mobil tangki milik PT Elnusa Petrofin di area SPBU.
Sebanyak 75 peserta dilibatkan dalam latihan tersebut. Mereka terdiri dari pengawas SPBU di wilayah Kota Banda Aceh, pekerja operasional, operator SPBU, serta unsur pendukung dari berbagai fungsi terkait.
Rangkaian kegiatan mencakup pelatihan pertolongan pertama, simulasi meja (tabletop exercise), hingga latihan lapangan untuk menguji respons dalam situasi darurat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, simulasi sengaja dirancang menyerupai kondisi lapangan agar setiap personel memahami langkah yang harus diambil ketika menghadapi insiden sebenarnya.
“Keselamatan merupakan prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional Pertamina. Melalui pelatihan dan simulasi ini, kami ingin memastikan seluruh personel, mitra kerja, dan pemangku kepentingan terkait memiliki kesiapan serta kemampuan respons yang cepat dan tepat dalam menghadapi kondisi darurat sehingga risiko terhadap manusia, lingkungan, maupun aset perusahaan dapat diminimalkan,” kata Fahrougi, Sabtu (13/6/2026).
Ia menjelaskan, simulasi semacam ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya keselamatan yang tidak berhenti pada prosedur administratif, tetapi juga melalui latihan berkala yang melibatkan seluruh unsur operasional.
Sementara itu, Regional Manager HSSE Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Agoeng Priyanto menambahkan, pengelolaan risiko di sektor energi membutuhkan koordinasi lintas fungsi dan kesiapan yang terukur. Karena itu, latihan penanggulangan keadaan darurat dilakukan untuk memastikan seluruh personel memiliki pemahaman dan standar respons yang sama.
“Keselamatan bukan hanya tanggung jawab fungsi HSSE, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh pekerja dan mitra kerja dalam setiap aktivitas operasional,” kata Agoeng.
Melalui kegiatan tersebut, Pertamina menargetkan peningkatan kemampuan respons personel sekaligus memperkuat budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) agar operasional distribusi energi tetap berjalan aman dan andal.



