Senin, 23 Maret 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Nahkoda Kapal Sea Dragon, Hasiholan Samosir di Pengadilan Negeri Batam (Foto: Putra Gema Pamungkas)

Pagi Tanpa Telepon dari Hasiholan Samosir

2 Maret 2026
Gema P Gema P
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

Selama bertahun-tahun, SS (54) terbiasa memulai hari dengan satu pertanyaan sederhana dari suaminya yang sedang melaut: “Sudah sarapan belum?” Panggilan itu biasanya datang dari Hasiholan Samosir pada Pukul lima pagi, sebelum SS berangkat ke sekolah tempatnya bekerja. Kini, sejak 21 Mei 2025, layar ponselnya hanya menyimpan kenangan. Tidak ada lagi suara yang memanggil namanya.

Di halaman Pengadilan Negeri Batam, SS duduk menunggu sidang lanjutan perkara yang menjerat suaminya, Hasiholan Samosir, kapten kapal Sea Dragon. Ia menggenggam tas kecil berisi buku catatan dan foto keluarga. Sesekali ia menatap pintu ruang sidang, seolah berharap seseorang keluar membawa kabar baik.

“Di rumah dia (Hasiholan) tidak bisa diam,” kata SS pelan. “Kalau tidak melaut, dia yang antar anak sekolah, jemput saya pulang, bantu orangtua saya yang sudah tua.”

Hasiholan sudah menjadi pelaut sejak sebelum tahun 2000. Laut adalah tempat ia mencari nafkah, tetapi rumah adalah tempat ia kembali menjadi ayah. Pada 2023, stroke membuatnya berhenti bekerja hampir dua tahun. Tabungan habis untuk pengobatan. Ketika tawaran berlayar datang pada April 2025, keluarga sebenarnya ragu.

Berita Lain

ASDP Imbau Pemudik Batam Rencanakan Arus Balik Lebih Awal

Ratusan Warga Binaan Lapas Batam Terima Remisi Idulfitri

BP Batam Dukung Pelepasan Ekspor Timah Solder, Tegaskan Momentum Hilirisasi Batam

Polda Kepri Perketat Razia Pelabuhan Menjelang Idulfitri 2026

Sehari sebelum berangkat, keberangkatan itu hampir dibatalkan. Namun SS melihat suaminya berdiri lama di ruang tamu, memandangi anak-anak mereka. “Dia bilang mau kerja lagi, supaya kami bisa makan,” ujarnya.

Pagi keberangkatan, SS menyusun pakaian suaminya, lalu mereka berdoa bersama. Ia mengantar sampai halaman rumah seorang kerabat. Tidak ada firasat buruk, hanya harapan sederhana agar suaminya segera pulang membawa gaji pertama setelah sakit panjang.

Menurut dakwaan jaksa, Hasiholan menerima pekerjaan membawa kapal tanker Sea Dragon dari Songkhla ke Phuket, Thailand. Setelah menunggu sekitar 10 hari di penginapan, mereka naik ke kapal di tengah laut. Kapal itu kemudian menerima puluhan kardus yang belakangan diketahui berisi sabu. Pada 21 Mei 2025, kapal dihentikan aparat di perairan Karimun dan dibawa ke Batam. Sebagai kapten, Hasiholan dianggap bertanggung jawab atas muatan kapal.

Namun bagi SS, hari-hari sang suami di Thailand yang ia ingat bukanlah tentang kardus atau koordinat. Ia ingat panggilan video yang datang berkali-kali dalam sehari. Ia ingat suaminya mendengarkan cerita anak-anak mereka satu per satu. “Kadang lebih lama dia dengar anak-anak daripada saya,” katanya.

Ia juga ingat kecurigaan kecil, suaminya terlalu lama menunggu keberangkatan kapal, hampir 10 hari. Ia mengingat kalimat yang pernah ia ucapkan, bahwa suaminya terlalu mudah percaya kepada orang. “Kalau orang baik sama dia, dia langsung tulus,” ujarnya.

Komunikasi terakhir terjadi pada malam 20 Mei 2025. Pagi berikutnya, telepon tidak berdering. SS mencari kabar bersama istri awak kapal lain. Dua hari kemudian, sebuah video penangkapan beredar di media sosial. Ia melihatnya sepulang dari sekolah. “Saya menjerit. Saya langsung jatuh sakit,” katanya.

Sejak itu, pertemuan mereka hanya melalui layar di ruang tahanan. Dalam setiap percakapan, menurut SS, suaminya menangis dan mengatakan tidak mengetahui adanya narkotika di kapal. Kalimat itu juga ia sampaikan kepada anak-anak mereka.

“Dia selalu menangis dan menyebut kalau dia adalah korban,” ungkapnya.

Ketika mendengar tuntutan hukuman mati dari jaksa, SS mengatakan suaminya tidak bisa tidur dua hari dua malam. Ia mengulang satu kalimat yang sama: tidak bersalah. SS sendiri merasa dunia seperti runtuh. Keluarga tidak memiliki biaya untuk menyewa pengacara, sehingga bergantung pada penasihat hukum yang ditunjuk negara.

Di ruang sidang, ia mendengarkan uraian barang bukti dengan kepala tertunduk. “Saya seperti tidak pijak bumi,” katanya. Gambaran dalam dakwaan terasa begitu jauh dari lelaki yang ia kenal: seorang ayah yang baru pulih dari stroke, yang berlayar lagi demi biaya sekolah anak.

Ia tidak menyangkal proses hukum. Ia hanya memohon agar majelis hakim Pengadilan Negeri Batam melihat peran masing-masing awak kapal secara mendalam, melihat latar belakang mereka sebagai pekerja, dan menilai dengan hati nurani.

“Hukumlah kebodohannya, bukan kejahatannya,” katanya lirih. “Mereka bukan orang jahat.”

Di tangan SS, ponsel itu masih menyimpan riwayat panggilan terakhir Hasiholan. Setiap pagi, sebelum berangkat beraktifitas, SS tetap membuka layar itu—menunggu sesuatu yang ia tahu mungkin tidak akan pernah kembali: satu panggilan dari laut yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Berita Lain

Masyarakat Kota saat memadati pelabuhan ASDP Telaga Punggur Batam (Foto: Putra Gema Pamungkas)

ASDP Imbau Pemudik Batam Rencanakan Arus Balik Lebih Awal

22 Maret 2026
Lapas kelas II A Barelang Batam (Dok: Lapas Batam)

Ratusan Warga Binaan Lapas Batam Terima Remisi Idulfitri

22 Maret 2026

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS