JAKARTA, HMStimes – PT Pertamina Patra Niaga (PPN) buka suara ihwal potensi menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) RON 92 Pertamax, seiring melandainya harga minyak dunia gegara rencana perdamaian Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun menyatakan, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dievaluasi secara berkala setiap bulannya, dengan mempertimbangkan parameter keekonomian.
Akan tetapi, dia menegaskan penetapan harga tersebut tetap memperhatikan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
“Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter perekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” kata Roberth melalui keterangan tertulis, Kamis, 18 Juni 2026 dilansir bloombergtechnoz.com.
Ia juga menekankan Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan pasar minyak global, sesuai formula yang berlaku.
Di sisi lain, Roberth mengungkapkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, belum sepenuhnya mengikuti harga pasar, sebab penyesuaian yang dilakukan baru sekitar 50% dari selisih harga keekonomian.
Dia menyatakan penetapan harga Pertamax tersebut sudah mengacu mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi”, ujarnya.
Roberth pun mengungkapkan, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan imbas perang yang sempat terjadi di Timur Tengah, pemerintah menahan harga BBM nonsubsisidi jenis Pertamax.
Dengan begitu, kenaikan harga Pertamax yang dilakukan pada Juni dilakukan mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional.
Namun menurut Roberth, harga Pertamax tetap lebih kompetitif dibandingkan harga BBM RON 92 di negara-negara Asean.
Terbuka Lebar
Sedangkan Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) menilai ruang penurunan harga BBM RON 92 atau Pertamax saat ini terbuka lebar, seiring turunnya harga minyak dunia.
Komite Investasi Aspermigas, Moshe Rizal menilai kenaikan harga Pertamax hingga 32% menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni lalu, dapat dipahami, sebab BBM RON 92 tersebut tak mengalami penyesuaian ketika minyak dunia menembus US$100 per barel.
Akan tetapi, saat ini harga minyak dunia mulai bergerak di bawah US$80 per barel, sehingga ruang untuk menurunkan harga Pertamax sudah terbuka lebar.
Dia menilai langkah tersebut tinggal menunggu kemauan politik dari pemerintah untuk menugaskan PT Pertamina (Persero).
“Nah sekarang sudah enggak ada alasan lagi untuk harga naik, kita lihat ya, Pertamina sekarang dituntut untuk turun dong, lah harga minyak (mentah) kan, sudah sudah turun. Jadi sekarang enggak ada alasan lagi untuk naik,” Moshe menekankan ketika dihubungi, Kamis, 18 Juni 2026.
Analisis Pasar
Harga minyak mentah dunia bergerak melemah seiring langkah para pelaku pasar menganalisis dampak dari pakta perdamaian sementara antara AS dan Iran.
Berdasarkan laporan televisi Iran negara Republik Islam tersebut serta seorang pejabat AS, dokumen kesepakatan itu kini telah ditandatangani secara digital oleh presiden kedua negara.
Kesepakatan tersebut berpotensi membuka kembali aliran jutaan barel minyak dari Timur Tengah seiring dimulainya kembali lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz setelah berakhirnya blokade ganda.
Konflik tersebut pecah pada akhir Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan tujuan membatasi program nuklir negara tersebut.
Sebagai respons, Teheran memblokir Selat Hormuz, jalur yang pada masa normal mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Adapun tentang harga minyak mentah internasional saat ini jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juli turun 1% menjadi US$76,02 per barel pada pukul 06.02 waktu Singapura. Sedangkan Brent untuk pengiriman Agustus naik 0,8% dan ditutup pada level US$79,55 per barel pada Rabu, 17 Juni 2026. (*)



