ANAMBAS, HMStimes – Aparat kepolisian bersama polisi kehutanan melakukan patroli dan peninjauan langsung ke habitat bunga langka Rafflesia hasseltii yang tengah mekar di kawasan Hutan Batu Tabir, kaki Gunung Samak, Dusun Rintis, Desa Tarempa Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Minggu (19/4/2026).
Kegiatan ini dipimpin Kapolsek Siantan, Iptu Dodi Setiawan bersama jajaran perwira dari satuan reserse kriminal, operasional, hingga kepolisian perairan. Tim juga didampingi anggota polisi kehutanan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Provinsi Kepulauan Riau.
Patroli dilakukan menyusul meningkatnya kunjungan masyarakat ke lokasi mekar bunga tersebut dalam beberapa hari terakhir. Aparat memastikan aktivitas wisata tidak mengganggu ekosistem di sekitar titik tumbuh rafflesia.
Setelah menempuh jalur pendakian yang cukup terjal dan berakar, tim tiba di lokasi sekitar Pukul 12.30 WIB dan langsung melakukan asesmen lapangan. Pemeriksaan difokuskan pada kondisi vegetasi di sekitar bunga, termasuk potensi kerusakan akibat aktivitas pengunjung.
“Bunga rafflesia ini merupakan aset alam yang sangat berharga dan dilindungi undang-undang. Karena itu, perlu dijaga bersama,” kata Iptu Dodi, Senin (20/4/2026).
Ia mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak merusak lingkungan selama berada di kawasan tersebut. Pengunjung diminta tidak membuang sampah sembarangan, tidak menginjak atau merusak vegetasi, serta mengikuti arahan pemandu lokal.
“Selain memastikan kondisi habitat tetap aman, kami juga memetakan sejumlah titik yang dinilai rawan, baik bagi keselamatan pengunjung maupun kelestarian ekosistem,” tutupnya.
Bunga Parasit Langka yang Rentan

Rafflesia hasseltii merupakan salah satu spesies rafflesia yang dikenal sebagai bunga terbesar di dunia. Berbeda dengan tanaman pada umumnya, rafflesia tidak memiliki daun, batang, maupun akar, sehingga bergantung sepenuhnya pada inang berupa tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma.
Siklus hidupnya yang panjang dan sensitif membuat bunga ini tergolong rentan terhadap gangguan. Dari fase kuncup hingga mekar membutuhkan waktu berbulan-bulan, sementara masa mekarnya hanya berlangsung beberapa hari.
Kondisi tersebut menjadikan rafflesia sebagai flora yang dilindungi, sekaligus indikator penting kesehatan hutan. Kerusakan kecil pada habitat, seperti injakan manusia atau perubahan kelembapan tanah, dapat menggagalkan proses mekarnya.
Di wilayah Anambas, kemunculan rafflesia menjadi daya tarik wisata alam yang jarang terjadi. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, lonjakan kunjungan berisiko mempercepat degradasi habitat.
Patroli terpadu ini, menurut aparat, menjadi bagian dari upaya pencegahan agar potensi wisata alam tetap sejalan dengan pelestarian lingkungan.



