BATAM, HMStimes – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada perdagangan Senin, 27 April 2026 ditutup pada level Rp5.975 per saham, turun 75 poin atau 1,24%. Bahkan, sempat menyentuh Rp5.950 per saham pada awal perdagangan sesi pertama.
Melihat kondisi tersebut, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengungkapkan bahwa perseroan pun memiliki rencana aksi korporasi pembelian kembali saham (buyback) yang telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada bulan lalu.
Dalam RUPST pada 12 Maret lalu, pemegang saham menyetujui rencana buyback dengan nilai maksimal Rp5 triliun.
“Akan ada (rencana) untuk buyback. Program buyback sesuai yang disetujui RUPS Maret kemarin,” kata Hendra kepada Investor Daily, Senin (27/4/2026).
Periode shares buyback akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana shares buyback oleh RUPST, kecuali diakhiri lebih cepat oleh perseroan dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Langkah ini dilakukan di tengah pelemahan harga saham BBCA dalam beberapa waktu terakhir. Aksi buyback tersebut bertujuan untuk mendukung stabilitas pasar modal Indonesia.
Jumlah saham yang dibeli kembali oleh perseroan tidak akan melebihi 10% dari modal disetor perseroan. Pelaksanaan shares buyback tidak akan mengakibatkan penurunan modal di bawah batas minimum sebagaimana dipersyaratkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 11/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan OJK No. 27 Tahun 2022 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.
Net sell
Sebanyak 273,26 juta saham BBCA diperdagangkan pada Senin, 27 April 2026 dengan frekuensi 80.207 kali, dan nilai transaksi Rp1,64 triliun. Investor asing membukukan net sell di saham BBCA sebesar Rp896,04 miliar.
Adapun dalam sepekan terakhir, saham BBCA melemah 8,08% dengan investor asing membukukan net sell Rp 4,77 triliun. “Iya, sepertinya investor asing masih banyak yang jual,” ucap Hendra.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, BCA senantiasa mematuhi prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan mematuhi segala peraturan/ketentuan yang berlaku.
Dalam earnings call kuartal I-2026, Stockbit Sekuritas menyampaikan bahwa manajemen BBCA mempertahankan seluruh guidance 2026. Manajemen menjelaskan bahwa kenaikan beban provisi pada kuartal I merupakan langkah proaktif atas situasi makroekonomi terkini sekaligus meningkatnya risiko di segmen konsumer, komersial, dan SME.
Dari sisi margin, manajemen mengakui tren tekanan pada loan yield terus berlanjut, meski mulai kembali naiknya yield obligasi pemerintah dan SRBI diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap keseluruhan net interest margin (NIM) BBCA baik secara langsung maupun tidak langsung.
“Secara fundamental, di antara Big 4 Banks, kami mempertahankan preferensi pada BBCA dan BMRI, di mana aspek risk management serta portofolio yang kuat pada segmen corporate membuat kedua bank tersebut relatif resilient, terutama dalam kondisi makroekonomi saat ini,” tulis Stockbit Sekuritas.
Dalam jangka pendek–menengah, pergerakan harga saham perbankan termasuk BBCA berpotensi lebih dipengaruhi oleh sentimen investor asing (foreign flow), termasuk nilai tukar rupiah.



