BINTAN, HMStimes – Sebuah unggahan di media sosial Instagram kembali menyoroti insiden terbaliknya speedboat wisata di perairan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, yang terjadi pada, Minggu (31/5/2026). Kisah itu datang dari salah satu korban melalui akun @sharifah.nah, yang membagikan pengalaman traumatis saat perahu yang mereka tumpangi kehilangan kendali di tengah cuaca buruk.
Dalam unggahannya, korban menggambarkan perjalanan wisata di kawasan Mangrove Lagoi yang semula direncanakan sebagai liburan keluarga justru berubah menjadi peristiwa yang disebutnya hampir merenggut nyawa. Rombongan yang disebut berjumlah 8 orang itu terdiri atas anak-anak, bayi, dan orang dewasa, sebelum insiden terjadi saat perjalanan menggunakan speedboat di kawasan perairan.
Korban menuturkan, perjalanan mulai memasuki situasi berbahaya ketika cuaca mendadak memburuk di sekitar kawasan hutan bakau. Hujan deras disebut turun saat perahu dalam perjalanan kembali, sementara air mulai memenuhi lambung kapal. Dalam kondisi tersebut, operator kapal berupaya mengeluarkan air sambil tetap mengemudikan speedboat.
Namun, dalam hitungan detik, kapal kehilangan kendali dan kemudian terbalik. Para penumpang disebut terjatuh ke laut dan sebagian terjebak di bawah badan perahu sebelum akhirnya berhasil menyelamatkan diri.
Baca juga : https://hmstimes.com/2026/speedboat-angkut-8-turis-asing-tenggelam-di-bintan/
Dalam unggahan itu, korban juga menyebut sebagian penumpang sempat terombang-ambing di perairan dan berpegangan pada kawasan hutan bakau selama puluhan menit sambil menunggu pertolongan. Situasi semakin sulit karena derasnya hujan, arus kuat, serta keterbatasan alat keselamatan.
Ia juga mengungkapkan sejumlah barang pribadi milik penumpang hilang dalam insiden tersebut, termasuk perangkat elektronik, dokumen, serta barang berharga lainnya dengan nilai kerugian yang disebut mencapai ribuan dolar Singapura.
Selain itu, korban mempertanyakan aspek keselamatan pelayaran, mulai dari kondisi kapasitas penumpang, perlengkapan keselamatan di kapal, hingga dugaan tidak adanya lisensi operasional pada awak kapal. Unggahan tersebut juga menyinggung minimnya fasilitas darurat seperti peluit pada jaket pelampung yang digunakan penumpang.
Dalam narasinya, korban menekankan bahwa unggahan tersebut bukan semata-mata soal kompensasi, melainkan bentuk pertanggungjawaban atas keselamatan wisatawan. Ia menyebut pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam, terutama bagi anak-anak dan bayi yang turut berada di atas kapal saat kejadian.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi lanjutan dari pihak operator wisata terkait insiden ini. Sementara itu, aparat kepolisian dari Polres Bintan juga tengah melakukan pendalaman terhadap insiden kecelakaan laut di kawasan wisata Mangrove Lagoi.
Catatan: Penulisan berita ini telah disusun berdasarkan unggahan dan kesaksian korban yang dipublikasikan melalui akun media sosial Instagram @sharifah.nah, dengan seizin pihak yang bersangkutan untuk digunakan sebagai bahan pemberitaan.



