BATAM – European Investment Bank (EIB) melirik proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) berkarbon rendah di Batam. Lembaga keuangan multilateral asal Eropa ini telah melakukan kunjungan untuk mengevaluasi dari dekat rencana proyek tersebut.
Menurut Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin Hamid, pihaknya menerima kunjungan EIB pad Kamis (3/11/2022) siang silam.
EIB berencana untuk berinvestasi ke berbagai proyek hijau dan berkelanjutan di Indonesia. EIB akan berinvestasi senilai € 1 miliar per tahun atau setara Rp 14,9 triliun (kurs Ro 14.978 per euro).
Kepada tim EIB, Jefridin Hamid menyampaikan perihal daya dukung dan alasan yang menguatkan bahwa BRT di Batam layak untuk direalisasikan.
Menurutnya, dalam RPJMD Kota Batam, pemerintah terus melakukan berbagai kegiatan pengembangan infrastruktur , termasuk pembangunan jalan yang masif .
Jefridin menyebutkan, pengembangan jalan adalah untuk mengkonkritkan rencana pengembangan transportasi di Batam.
Pihaknya juga tengah menyusun Kajian/Rancangan Perda Hubungan Keuangan Daerah Pusat. Di dalam salah satu pasalnya, mengatur mengenai pajak progresif untuk kendaraan.
“Lewat ini, masyarakat Batam akan menahan diri perihal angkutan pribadi,” imbuhnya.
Kemudian, penduduk Batam yang berjumlah sekitar 1,3 juta orang, hampir 40 persen orang muda yang bekerja di sektor industri. Kelompok ini tentu berharap dan akan terbantu dengan transportasi massal seperti BRT.
“Mudah-mudahan rencana bersama BRT ini terwujud dan terlaksana dengan baik,” imbuhnya.
Sebagai bentuk keseriusan, dan menyatakan kesiapan perihal pengembangan BRT di Batam, Pemko Batam akan bersurat kepada Bapennas dan Kemenhub.
Kerap dalam berbagai kesempatan berdialog dengan masyarakat, terungkap keinginan akan adanya transportasi massal yang mumpuni di Batam.
Sementara itu, Prinsipal Transport Advisor Projects Directorate EIB Meryn Martens, mengungkapkan kedatangan pihaknya untuk mengevaluasi dari dekat daerah yang menjadi tujuan rencana pengembangan BRT.
“Sebelum kami mendapatkan petunjuk Bapennas dan Kemenhub. Biasa kami datang mengevaluasi kota-kota yang mana memang layak mendapatkan pengadaan sesuai standar yang kami tetapkan,” kata dia.
Sebelumnya, pada 2019 berdasarkan nota kesepakatan dengan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Batam merupakan pilot projek BRT bersama lima daerah lainnya.
Berdasarkan penunjukan tersebut hasilnya adalah hasil perencanaan FS BRT . Kemudian, studi kelayakan oleh EIB, kemarin perihal penjajakan realisasi pembangunan BRT melalui investasi EIB melalui pemerintah pusat.
Namun kini, Jakarta menjadi prioritas utama proyek ini dan juga prioritas lain adalah Makkasar. Alasan Batam yang belum termasuk prioritas ini yang membuat tim EIB turun menggelar studi kelayakan. Pihaknya mendapat informasi bahwa Batam belum memiliki rencana jangka panjang perihal BRT.
“Saya ingin tahu mengapa Batam yang kita ingin kan bersama menjadi prioritas pada blue book yang ada di Bapennas,” imbuBatam
Turut mendampingi Sekretaris Daerah Kota Batam yaitu Kadis Perhubungan, Kadis BMSDA Yusmasnur, Kadis Kominfo Azril Apriyansah, Kadis Cipta Karya dan Tata Ruang Suhar, Bapelitbang, BPKAD, dan DLH. (*)



