BATAM, HMStimes – Hotel berbintang tinggi di Batam masih menghadapi tekanan di tengah pemulihan sektor pariwisata. Rendahnya tingkat hunian pada hotel bintang 4 dan 5 dinilai berkaitan erat dengan minimnya penyelenggaraan kegiatan internasional yang mampu menarik tamu korporasi dan delegasi resmi.
Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau, Hasan mengatakan, ketimpangan hunian hotel masih terlihat jelas di wilayah tersebut. Hotel kelas menengah cenderung lebih stabil karena menyasar wisatawan domestik dan pelaku perjalanan dengan anggaran terbatas. Sebaliknya, hotel kelas atas masih kesulitan memperoleh tingkat keterisian yang ideal.
“Kalau di Batam khususnya, hotel bintang 3 ke bawah itu yang banyak terisi. Sementara hotel bintang 4 dan 5 tingkat huniannya masih rendah,” kata Hasan, Selasa (21/4/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, rata-rata tingkat hunian hotel di Kepulauan Riau baru berada di angka 44 persen. Dari setiap 100 kamar yang tersedia, hanya sekitar 44 kamar yang terisi.
“Ini rata-rata semua hotel. Jadi memang masih jauh dari ideal,” ujarnya.
Rendahnya tingkat hunian hotel berbintang tinggi memperlihatkan perubahan pola pasar wisata. Wisatawan kini lebih memilih penginapan dengan tarif terjangkau, sementara segmen hotel premium sangat bergantung pada agenda bisnis, konferensi, hingga pertemuan resmi.
Dalam kondisi itu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menilai penyelenggaraan event internasional menjadi salah satu instrumen penting untuk memulihkan industri perhotelan kelas atas. Kehadiran delegasi dan peserta forum internasional dinilai dapat langsung meningkatkan permintaan kamar hotel.
“Kalau ada event internasional, pasti tamu-tamu atau delegasi akan menginap di hotel bintang 4 dan 5. Ini yang harus kita dorong bersama,” lanjutnya.
Menurut Hasan, Batam memiliki infrastruktur yang cukup untuk menjadi tuan rumah forum berskala regional maupun internasional. Letaknya yang berdekatan dengan Singapura dan akses transportasi yang relatif mudah menjadi modal penting untuk menarik kegiatan lintas negara.
“Bisa saja dibuat pertemuan tingkat Asia Tenggara atau internasional di Batam. Kegiatannya 3 sampai 4 hari, itu sangat membantu tingkat hunian hotel,” katanya.
Namun, pemulihan industri perhotelan tidak hanya bergantung pada promosi wisata. Tekanan global, termasuk konflik geopolitik dan kenaikan biaya energi, turut memperberat operasional hotel.
Hasan menilai, apabila kondisi tersebut berlangsung lama, dampaknya bisa menjalar ke sektor ketenagakerjaan. Hotel yang kesulitan menjaga arus kas berisiko menekan biaya operasional, termasuk pengeluaran tenaga kerja.
“Kalau ini dibiarkan, bisa berdampak ke tenaga kerja. Hotel bisa kesulitan bayar gaji, bahkan berpotensi melakukan PHK,” ujarnya.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau kini menyiapkan sejumlah usulan kebijakan kepada pemerintah pusat, termasuk dukungan terhadap sektor transportasi dan promosi destinasi. Dalam waktu dekat, rapat kerja daerah juga akan digelar bersama kepala daerah untuk memperkuat strategi pemulihan pariwisata.
“Kunci pariwisata ini ada pada komitmen kepala daerah. Kalau itu kuat, kita optimistis sektor ini bisa bangkit,” tutupnya.



