JAKARTA, HMStimes – Wakil Ketua Komisi-I DPR RI, Dr. Dave Akbarshah Fikarno Laksono, ME menyambut baik rencana pengembangan Bandara Kertajati, Jawa Barat, menjadi pusat maintenance, repair and overhaul_ (MRO) pesawat Hercules/C-130 di Asia.
Ia menilai langkah itu memiliki nilai strategis bagi Indonesia, baik dari sisi peningkatan kapasitas teknis maupun penguatan posisi kita dalam ekosistem pertahanan kawasan.
“Fasilitas MRO ini akan memperkuat kesiapan operasional pesawat Hercules yang selama ini berperan penting dalam misi kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan operasi pertahanan,” kata Dave saat dihubungi, Senin, 25 Mei 2026.
Selain itu, jika terealisasi, ia mengatakan proyek itu berpotensi membuka lapangan kerja baru, meningkatkan keterampilan teknis SDM, serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui transfer pengetahuan dan teknologi.
Kedaulatan Nasional
Pimpinan Komisi dari Fraksi Pantai Golkar ini mengingatkan, kedaulatan nasional tetap menjadi prinsip utama jika rencana itu direalisasikan.
Ia menegaskan setiap kerja sama internasional harus tunduk pada regulasi dan mekanisme yang berlaku di Indonesia.
Dave menyebut Komisi I DPR RI akan memastikan tidak ada ruang bagi pelanggaran terhadap kepentingan nasional maupun kedaulatan negara.
“Dengan adanya fasilitas ini, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penyedia layanan perawatan yang diakui secara regional. Hal ini meningkatkan daya tawar kita dalam kerja sama internasional dan memperkuat reputasi Indonesia sebagai mitra yang kredibel di bidang pertahanan,” katanya dilansir cnnindonesia.com.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) sebelumnya menyatakan rencana pengembangan Bandara Kertajati, Jawa Barat, menjadi pusat maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat Hercules/C-130 di regional masih dalam tahap penjajakan awal.
“Saat ini masih dalam tahap pembahasan dan penjajakan awal, sehingga sifatnya masih proses pengembangan Kertajati sebagai pusat MRO Hercules regional,” kata Karo Infohan Setjen Kemhan, Brigjen Rico Ricardo Sirait saat dihubungi.
Pilihan Kertajati
Ia menjelaskan Bandara Kertajati dipilih karena memiliki lahan yang luas dan fasilitas memadai.
Menurut Rico rencana itu untuk penguatan kapasitas industri pertahanan dan aviasi nasional, bukan pembangunan pangkalan militer asing.
“Agar Indonesia ke depan memiliki kemampuan maintenance pesawat angkut strategis yang lebih mandiri dan dapat berkembang menjadi hub regional secara bertahap. Jadi ini lebih kepada pengembangan kemampuan teknis dan industri, bukan pembangunan pangkalan militer asing,” ujarnya.
Rencana itu awalnya diungkap Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat dengan Komisi I DPR RI pada Selasa, 19 Mei 2026.
Dalam rapat ia bercerita pertemuannya dengan Menteri Perang AS Pete Hegseth tahun lalu. Tawaran pun disampaikan Pete ke Sjafrie.
“Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara ASEAN, dia menawarkan bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami,” kata Sjafrie dalam rapat.
Namun Sjafrie mengatakan tidak langsung menjawab tawaran itu dan melaporkannya ke Presiden Prabowo Subianto.
“Saya lapor Bapak Presiden, kasih Kertajati. Kita sedang bekerja untuk itu,” katanya. (*)



