JAKARTA, HMStimes – Panitia Pendaftaran dan Verifikasi Calon Ketua Umum Pimpinan Pusat Kolektif (PPK) Kosgoro 1957 periode 2026–2031 resmi menutup tahapan pengembalian formulir pendaftaran pada, Jumat (5/6/2026). Tahapan pengambilan formulir sebelumnya telah berlangsung pada 25-30 Mei 2026.
Koordinator Bidang Pendaftaran dan Verifikasi, Mascot Siregar mengatakan, hingga batas waktu yang ditetapkan, panitia menerima berkas dari dua bakal calon ketua umum. Kedua nama tersebut adalah La Ode Safiul Akbar. dan Sari Yuliati.
Dengan ditutupnya tahapan tersebut, proses menuju Musyawarah Besar (Mubes) V Kosgoro 1957 memasuki fase verifikasi dan konsolidasi administrasi sebelum penetapan peserta dan agenda persidangan organisasi.
Salah satu bakal calon ketua umum, La Ode Safiul Akbar mengatakan, kesiapannya untuk maju dalam kontestasi tersebut. Ia menilai Mubes V Kosgoro 1957 harus menjadi momentum penting bagi pembaruan organisasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman dan tantangan nasional.
La Ode menjelaskan, Kosgoro tidak cukup hanya bertumpu pada kebesaran sejarah yang telah dibangun selama puluhan tahun. Ia menekankan pentingnya menjadikan warisan perjuangan organisasi sebagai modal untuk melakukan transformasi kelembagaan yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi saat ini dan mendatang.
“Kita tidak boleh hanya bernostalgia pada kebesaran sejarah Kosgoro. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana menjadikan warisan besar itu sebagai energi untuk membangun organisasi yang lebih modern, lebih kuat, dan lebih relevan bagi generasi masa depan,” kata La Ode dalam keterangan resminya sebelumnya, Senin (1/6/2026).
Ia menilai, Kosgoro 1957 memiliki modal besar berupa sejarah panjang, jaringan organisasi yang luas, serta sumber daya kader yang tersebar di berbagai bidang. Namun, potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola secara lebih sistematis melalui agenda transformasi organisasi yang berorientasi pada penguatan kaderisasi, pemberdayaan ekonomi rakyat, serta peningkatan peran generasi muda.
La Ode juga menekankan perlunya reposisi Kosgoro sebagai ruang pembinaan kader yang tidak hanya berorientasi pada politik praktis, tetapi juga melahirkan sumber daya manusia yang beragam, mulai dari pengusaha, akademisi, profesional, hingga tokoh masyarakat.
“Kosgoro harus kembali menjadi kawah candradimuka kader bangsa. Kita membutuhkan organisasi yang tidak hanya melahirkan politisi, tetapi juga pemimpin masyarakat, pengusaha, profesional, akademisi, dan tokoh-tokoh perubahan yang memberi manfaat nyata bagi Indonesia,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai proses regenerasi kepemimpinan merupakan kebutuhan organisasi yang tidak dapat dihindari. Menurutnya, pembaruan kepemimpinan harus dipahami sebagai upaya menjaga kesinambungan nilai dan cita-cita pendiri organisasi, bukan sebagai pemutusan terhadap tradisi yang telah dibangun.
“Regenerasi bukan berarti meninggalkan para senior. Justru regenerasi adalah cara kita menjaga agar cita-cita para pendiri tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kita ingin membangun jembatan antara pengalaman para senior dan kreativitas generasi muda,” ungkapnya.
Dalam pandangannya, Kosgoro juga perlu memperkuat peran dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya melalui penguatan ekonomi kerakyatan di tingkat daerah. Ia menilai pembangunan tidak dapat hanya bertumpu pada pusat, melainkan harus melibatkan kekuatan masyarakat di berbagai wilayah.
“Saya meyakini masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan dari Jakarta. Karena itu, Kosgoro harus hadir sampai ke daerah-daerah, mendampingi UMKM, memperkuat koperasi, dan menciptakan ruang tumbuh bagi generasi muda untuk berkarya,” katanya.
Ia menambahkan, dinamika pemilihan dalam Mubes V Kosgoro 1957 sebaiknya dimaknai sebagai bagian dari proses demokrasi internal organisasi yang sehat. Kontestasi, menurutnya, tidak boleh memunculkan fragmentasi di tubuh organisasi, melainkan menjadi sarana untuk memperkuat konsolidasi dan arah gerak ke depan.
“Mubes bukan soal siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setelah Mubes, Kosgoro menjadi semakin solid, semakin besar, dan semakin berpengaruh dalam memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara,” ujarnya.
La Ode juga menyampaikan harapannya agar Mubes V Kosgoro 1957 dapat menghasilkan kepemimpinan baru yang mampu menjawab tantangan nasional maupun global. Ia menekankan pentingnya arah organisasi yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.
“Saya maju dengan semangat pengabdian, bukan sekadar ambisi. Jika diberikan amanah, saya ingin membawa Kosgoro menjadi organisasi yang progresif, inklusif, dan menjadi rumah besar bagi seluruh kader yang ingin berjuang untuk rakyat, bangsa, dan negara,” tutupnya.



