Sabtu, 24 Oktober 2026
No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Eksklusif
  • Feature
  • Kriminal
  • Politik
  • Sejarah
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Opini
Direktur Utama GMF AeroAsia Andi Fahrurrozi saat ditemui di Kota Batam (Foto: Putra Gema Pamungkas)

Batam Didorong Jadi Simpul Industri MRO dan Perawatan Pesawat Asia

10 Juni 2026
Gema P Gema P
Bagikan ke FacebookBagikan ke WhatsApp

BATAM, HMStimes – Industri perawatan pesawat nasional masih menghadapi tantangan besar untuk merebut pasar yang selama ini mengalir ke luar negeri. Meski Indonesia memiliki pasar penerbangan yang besar dan terus bertumbuh, sekitar 46 persen kebutuhan perawatan pesawat nasional masih ditangani fasilitas di luar negeri.

Kondisi tersebut menjadi perhatian utama dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang digelar di Batam. Pelaku industri menilai penguatan kapasitas perawatan komponen dan mesin pesawat menjadi kunci agar Indonesia mampu menjadi pusat layanan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di kawasan Asia.

Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA), sekaligus Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi mengatakan, Indonesia memiliki modal yang kuat untuk berkembang sebagai pemain utama industri MRO regional. Namun, sejumlah hambatan masih harus diselesaikan, mulai dari regulasi, investasi, hingga kemampuan perawatan komponen dan mesin pesawat.

Menurut Andi, tema IMROS 2026, Strengthening Indonesia’s Position as Asia MRO Hub, menjadi momentum untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri kedirgantaraan Asia. Pertumbuhan industri penerbangan, kata dia, harus diiringi dengan penguatan daya saing sektor perawatan pesawat agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi pusat layanan MRO di kawasan.

Berita Lain

Ketua DPRD Batam Kamaluddin Minta Maaf atas Molornya Jadwal Paripurna, Segera Perbaiki Koordinasi

Perkuat Kepedulian terhadap Sesama, BP Batam Gelar Donor Darah dalam Rangkaian Hari Bakti ke-55

BP Batam dan Dewan Pers Perkuat Sinergi Kemitraan Media: Dorong Ekosistem Jurnalisme Tumbuh Profesional dan Berkualitas

Investasi Korea di Batam Tembus USD65,1 Juta, BP Batam Jemput Peluang Baru di Seoul

Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian industri adalah kebijakan larangan dan pembatasan (lartas) serta klasifikasi Harmonized System Code (HS Code) untuk kebutuhan suku cadang pesawat. Andi menjelaskan pembahasan mengenai pengecualian lartas bagi industri penerbangan telah berlangsung selama dua tahun terakhir dan kini pelaku usaha menunggu aturan lanjutan dari pemerintah.

“Untuk spare part pesawat, bea masuk saat ini diarahkan menjadi 20 persen. Tahapan pembahasannya sudah selesai dan sebelumnya juga telah diumumkan pemerintah. Sekarang prosesnya masih tahap simbolisasi dan kami menunggu Peraturan Menteri Keuangan diterbitkan,” kata Andi, Rabu (10/6/2026).

Ia berharap regulasi tersebut dapat segera berlaku sehingga mampu meningkatkan efisiensi biaya dan memperkuat daya saing industri perawatan pesawat nasional. Menurut dia, kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk menarik investasi baru ke sektor MRO.

Andi mengungkapkan, kemampuan industri MRO nasional sebenarnya sudah cukup kuat pada sektor perawatan struktur pesawat (airframe). Sekitar 90 persen pekerjaan pada segmen tersebut telah mampu ditangani oleh fasilitas yang ada di dalam negeri.

Namun, tantangan terbesar masih berada pada sektor perawatan komponen dan mesin pesawat yang membutuhkan investasi besar, teknologi tinggi, serta sertifikasi yang ketat. Di sisi lain, banyak produsen pesawat dan mesin atau Original Equipment Manufacturer (OEM) kini membangun fasilitas MRO sendiri sehingga akses pasar menjadi semakin terbatas.

“Kendala kita ada di komponen dan engine. Investasinya sangat besar. Banyak OEM sekarang membangun fasilitas MRO sendiri sehingga semakin eksklusif. Untuk engine, sekitar 70 persen masih dikerjakan di luar negeri,” ungkapnya.

Menurut dia, dalam lima tahun ke depan belum terlihat adanya investasi besar untuk pembangunan fasilitas perawatan mesin pesawat baru di Indonesia. Karena itu, IAMSA akan memfokuskan upaya pada penguatan kapasitas perawatan komponen dan mesin guna menarik kembali pasar perawatan pesawat nasional yang saat ini masih mengalir ke luar negeri.

Pada kesempatan yang sama, Andi juga menyampaikan perkembangan rencana ekspansi GMF AeroAsia di proyek Kertajati Aerospace Park. Ia mengatakan perusahaan masih berada pada tahap persiapan dan pematangan rencana pengembangan kawasan tersebut.

Meski demikian, Andi menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan untuk menjadi hub MRO regional, mulai dari besarnya pasar penerbangan domestik, pertumbuhan armada yang terus meningkat, ketersediaan tenaga kerja kompeten, hingga posisi geografis yang strategis di jalur penerbangan internasional.

“Keberhasilan bergantung pada kekuatan ekosistem. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, regulator, maskapai, penyedia MRO, OEM, pemasok, institusi pendidikan, dan investor,” tutupnya.

Berita Lain

Pegawai Pemerintah Malaysia Diperas di Batam, Dua Pelaku Ditangkap Polisi

6 Juli 2026

Trafo Kelebihan Beban, PLN Batam Bangun Gardu Baru di Senjulung

6 Juli 2026

IKLAN

Kalau Anda wartawan, tulislah sesuatu yang bernilai untuk dibaca. Kalau Anda bukan wartawan, kerjakanlah sesuatu yang bernilai untuk ditulis.

  • Tentang HMS
  • Redaksi
  • Perusahaan
  • Alamat
  • Pedoman

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS

No Result
View All Result
  • Batam
  • Kepri
  • Sumatra Utara
  • Feature
  • Eksklusif
  • Lowongan Wartawan
  • Kode Perilaku HMS

© 2020 HMStimes.com - Dilarang mengutip dan menyadur teks serta memakai foto dari laman HMS