JAKARTA, HMStimes – Ratusan mahasiswa lintas kampus yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Persatuan Indonesia, Sabtu, 20 Juni 2026 menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Unjuk rasa bertajuk “Mimbar Mahasiswa: Bangkit Berdialog, Tolak Provokasi, Selamatkan Demokrasi” tersebut, digelar sebagai respons atas kondisi demokrasi dan tata kelola pemerintahan yang dinilai memerlukan koreksi mendalam.
Kendati demikian, mereka memilih pendekatan lewat jalan intelektual ketimbang konfrontasi jalanan.
Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian oleh para Ketua BEM, massa aksi menyoroti tiga isu krusial yang sedang dihadapi bangsa, yakni maraknya praktik korupsi di sejumlah lembaga negara; meningkatnya penyebaran disinformasi yang berpotensi memecah belah persatuan; serta pelaksanaan berbagai program strategis pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya transparan dan akuntabel.
Bukan Pasif
Perwakilan Aliansi BEM Persatuan Indonesia dari Universitas Jayabaya, Hikmah Maulana menegaskan, pilihan sikap ini bukan berarti mahasiswa tinggal diam atau bersikap pasif terhadap persoalan bangsa. “Langkah ini justru diambil atas kesadaran bahwa perubahan yang substantif dan berdampak panjang, lahir dari adu argumen yang kuat, bukan sekadar dari kegaduhan di ruang publik.
“Kami hadir untuk meluruskan, bukan memusuhi; mengingatkan, bukan menjatuhkan,” tegasnya dikutip SindoNews.
BEM Persatuan Indonesia secara eksplisit menyatakan, gerakan mereka bukan dalam rangka memusuhi pemerintah.
Dalam pernyataan yang dibacakan di lokasi, mereka menjelaskan, langkah ini merupakan bentuk koreksi demokratis dari generasi muda, yang menginginkan perbaikan tata kelola negara, bukan delegitimasi terhadap pemerintahan yang sah.
Dukung MBG
Sikap akomodatif tersebut tercermin jelas dari pandangan mereka terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu agenda prioritas pemerintah yang belakangan menuai kritik tajam.
Berbeda dengan kelompok yang menuntut penghentian total, BEM Persatuan Indonesia menyatakan dukungannya agar program MBG tetap dilanjutkan.
Menurut mereka, pemenuhan gizi masyarakat merupakan fondasi penting dalam menyiapkan Generasi Emas 2045. (*)


